Barometer.co.id-Manado. PLN UID Suluttenggo menyiagakan 2.199 petugas untuk memastikan keandalan kelistrikan selama periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Selain menyiagakan petugas, PLN UID Suluttenggo juga menyiapkan 60 Posko siaga di seluruh wilayah Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggah dan Gorontalo.

“Seluruh petugas PLN Suluttenggo stand by selama periode Nataru 2025/2026 di lokasi-lokasi strategis, seperti tempat pelaksanaan ibadah, kantor pemerintahan dan pusat-pusat keramaian,” kata GM PT. PLN UID Suluttenggo, Usman Bangun pada acara jumpa media, Selasa (23/12/25).

PLN UID Suluttenggo menurut Usman juga menyiapkan berbagai fasilitas dan infrastruktur pendukung seperti 59 genset, 2 UPS, 29 gardu bergerak, 30 truck crane, 141 mobil dan 196 motor. Selain itu, PLN juga menyiagakan 27 personil PDKB (Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan) dan 7 PDKB berjarak.

Usman mengatakan, sistem kelistrikan Sulutgo saat ini sangat andal, dengan total Daya Mampu Pasok (DMP) mencapai 584,06 MW, sementara beban puncak 508,36 MW. Itu berarti sistem kelistrikan Sulutgo memiliki cadangan sebesar 75,70 MW.

Pada kesempatan tersebut, Usman juga mengimbau masyarakat agar waspada terhadap bahaya kelistrikan. Salah satu contohnya adalah jangan pernah menggunakan kabel speaker untuk kelistrikan. “Kemampuan kabel speaker itu tidak mampu untuk dialiri listrik sebesar 220 volt. Jika dipakai maka bisa membahayakan,” ujarnya.

Terkait beban puncak tertinggi selama periode Nataru 25/26, Manajer Komunikasi dan TJSL PLN UID Suluttenggo, Noven Koropit mengatakan, beban puncak sudah terjadi pada Kamis 18 Desember 2025 yakni sebesar 484,39 MW.

“Pada tanggal 25 Desember 2025, kami perkirakan beban puncak tertinggi sebesar 474,25 MW dengan cadangan sebesar 213,67 MW. Sedangkan pada 1 Januari 2026, beban puncak tertinggi diperkirakan sebesar 422,78 MW dengan cadangan 165,15 MW,” kata Noven.

Noven juga mengatakan, selama periode Nataru ini, tidak ada pekerjaan perawatan sistem yang menyebabkan adanya pemadaman. “Jika terjadi aliran listrik padam selama periode Nataru, hal itu mungkin disebabkan oleh alam, yang sudah berada di luar kemampuan kami,” katanya.(ing)