Barometer.co.id-Manado. Pada bulan Januari 2026, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) mengalami inflasi 0,67% mtm atau secara bulanan. Tingkat inflasi ini lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya, yakni Desember 2025 yang sebesar 0,51%. Sedangkan secara tahunan, inflasi di Sulut mencapai 3,04% (yoy), juga lebih tinggi dibanding bulan Desember 2025 yang sebesar 1,23%.
Secara bulanan, komoditas penyumbang utama inflasi adalah tomat (0,37%), Ikan Cakalang (0,19%) dan emas perhiasan (0,13%). Sementara komoditas penahan inflasi atau yang mengalami deflasi terbesar yaitu cabai rawit (0,41%), bawang merah (0,09%) dan angkutan udara (0,09%).
Sedangkan secara tahunan, komoditas penyumbang inflasi terbesar adalah tarif lisstrik yang mencapai 1,70%, kemudian emas perhiasan 0,67% dan beras 0,40%. Sebaliknya, komoditas penahan inflasi atau yang mengalami deflasi terbesar yaitu daging babi sebesar 0,79%, cabai rawit 0,63% dan angkutan udara 0,12%.
Bhayu Prabowo, kepala Tata Usaha yang mewakili Kepala BPS Sulut, Agus Sudibyo saat menyampaikan Berita Resmi Statistik (BRS), Senin (02/02/26) mengatakan, fenomena yang mempengaruhi perkembangan harga di Sulut yaitu pertama, kenaikan harga tomat.
“Pada bulan Januari 2026 harga komoditas tomat mengalami kenaikan karena stok di pasar terbatas setelah berakhirnya musim panen. Cuaca hujan juga berdampak pada kualitas tomat kurang baik sehingga pasokan yang masuk dari Minahasa dan Minahasa Selatan berkurang,” katanya.
Selain itu menurutnya, terjadi kenaikan harga ikan cakalang/ikan sisik karena cuaca yang kurang mendukung. Hal ini mengakibatkan aktivitas melaut nelayan terganggu, sehingga produksi hasil tangkapan menurun dan pasokan ikan ke pasar berkurang.
Pada bulan Januari, harga emas perhiasan juga terus mengalami kenaikan karena mengikuti pergerakan harga emas global yang mencapai US$ 5.000 per troy ons pada bulan Januari 2026.
Fenomena selanjutnya menurut Bhayu adalah penurunan harga cabai rawit. “Pada bulan Januari 2026 harga komoditas cabai rawit mengalami penurunan karena melimpahnya stok akibat musim panen di daerah sentra produksi seperti Minahasa dan Minahasa Utara serta tambahan pasokan dari Gorontalo,” ujarnya.(jou)
