Barometer.co.id-Manado. Provinsi Sulawesi Utara mengalami inflasi 1,02% secara bulanan (mtm) pada bulan Februari 2026. Terjadinya inflasi ini terutama disebabkan oleh kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau yang mengalami inflasi 2,11% dan memberikan andil inflasi sebesar 0,69%. Inflasi year to date pada Februari sebesar 1,69% dan secara year on year 4,64%.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut, Agus Sudibyo mengatakan, dari 11 kelompok pengeluaran, sembilan di antaranya mengalami inflasi, dan hanya dua kelompok yang mengalami deflasi. Kelompok yang mengalami inflasi paling tinggi adalah Makanan, Minuman dan Tembakau yakni sebesar 2,11% dan Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya yakni 2,00% (mtm). Dua Kelompok ini memberi andil inflasi paling tinggi, yakni masing-masing 0,69% dan 0,14%.

“Untuk komoditas, yang memberi andil inflasi paling tinggi adalah cabai rawit yakni sebesar 0,61 persen, daun bawang 0,17 persen dan emas perhiasan 0,16 persen,” kata Agus saat menyampaikan Berita Resmi Statistik (BRS), Senin (02/03/26).

Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi adalah Kesehatan sebesar 0,51% dan Pendidikan 0,01%. Kelompok Pengeluaran Kesehatan memberi andil deflasi atau menahan inflasi sebesar 0,02%. Komoditas yang mengalami deflasi atau menjadi penahan inflasi adalah bawang merah -0,12%, daging babi 0,06% dan beras 0,03%.

Agus mengatakan, untuk inflasi year on year Sulawesi Utara pada bulan Februari 2026 sebesar 4,64% (yoy). Kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi tertinggi adalah Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga yang mencapai 16,71% (yoy). Kelompok ini memberi andil inflasi paling besar yakni 2,30%. Kelompok selanjutnya yang mengalami inflasi tertinggi adalah

Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya sebesar 13,96% (yoy) serta Pendidikan 9,67% (yoy). Dua kelompok pengeluaran ini memberi andil masing-masing 0,88% (yoy) dan 0,31% (yoy).

“Untuk komoditas, yang memberi andil inflasi paling tinggi adalah Tarif Listrik sebesar 2,25 persen, kemudian emas perhiasan 0,79 persen dan daun bawang 0,40 persen,” ujar Agus.

Sementara Kelompok Pengeluaran yang mengalami deflasi secara tahunan adalah Pakaian dan Alas kaki sebesar -2,43%, Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga 0,59% serta Rekreasi, Olahraga, dan Budaya 0,45%. Komoditas yang mengalami deflasi atau menjadi penahan inflasi adalah terbesar adalah daging babi 0,68 persen, Tomat 0,14 persen dan cabai rawit 0,09 persen.(jou)