Barometer.co.id-Jakarta. Kementerian Komunikasi dan Digital menyatakan jaringan telekomunikasi di Sulawesi Utara telah pulih 98,2 persen pada hari yang sama setelah dilanda gempa magnitudo 7,6 pada Kamis (2/4).

Kementerian, dalam siaran resmi di Jakarta, Jumat (03/04/26), memastikan layanan telekomunikasi di provinsi tersebut telah pulih secara cepat dan terjaga.

Gempa, yang berpusat 129 kilometer arah tenggara Bitung, menyebabkan gangguan pada 223 titik, atau sekitar 9,97 persen dari total 2.236 titik di wilayah yang terdampak. Pemulihan jaringan telekomunikasi di provinsi tersebut dilakukan secara cepat sehingga mayoritas layanan kembali normal dalam hitungan jam.

Gangguan jaringan disebabkan oleh pasokan listrik sehingga operator telekomunikasi menggunakan genset sambil menunggu pemulihan listrik agar layanan telekomunikasi tetap berjalan.

Pemerintah langsung mengaktifkan Tim Krisis Managemen di Posko Pusat Monitoring Telekomunikasi (PMT) sejak awal kejadian gempa dan melibatkan seluruh unsur teknisi dan operator untuk menjaga layanan tetap berjalan dan mempercepat pemulihan.

Menurut data Kemkomdigi, kini 219 titik terdampak sudah kembali beroperasi, sementara empat titik di Kota Bitung (dua titik), Kabupaten Minahasa (satu titik), dan Kabupaten Minahasa Selatan (satu titik) masih dalam proses pemulihan.

Kementerian juga memastikan sistem peringatan dini berjalan efektif. Early Warning System, sistem peringatan dini kebencanaan, berhasil mengirimkan notifikasi gempa dan potensi tsunami dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika ke wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara, termasuk Kota Bitung, Halmahera Barat, Halmahera Selatan, dan Ternate.

Dua stasiun monitoring transportabel di Bitung dan Minahasa berada dalam kondisi baik dan tetap beroperasi. Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio Manado saat ini masih dalam pemantauan.

Kemkomdigi memastikan seluruh sumber daya terus disiagakan agar jaringan tetap stabil sehingga masyarakat tetap terhubung selama masa tanggap darurat.(ANTARA)