Barometer.co.id-Jakarta. Ironi terbesar Piala Dunia 2026 mungkin adalah pencapaian buruk kebanyakan tim-tim Asia (AFC) justru ketika peserta turnamen ini ditambah menjadi 48 tim, dari 32 tim.
Berdasarkan format baru itu, Asia mendapatkan jatah delapan tim, ditambah tim yang berhak ke playoff antarbenua, yang pada edisi ini diwakili Irak setelah mengalahkan Bolivia pada 1 April lalu.
Namun, dari kesembilan tim itu, hanya Jepang dan Australia yang sukses melalui fase grup.
Iran nyaris mengikuti kedua negara itu, tapi faktor yang cenderung merupakan keberuntungan telah menghalangi Team Melli merengkuh apa yang direngkuh Australia dan Jepang.
Iran, seperti diutarakan pelatihnya, Amir Ghalenoei, adalah tim yang paling dizalimi, khususnya oleh Amerika Serikat.
Iran yang tak terkalahkan dan Korea Selatan yang konsisten bermain menyerang, tak bisa dikatakan telah bermain buruk. Mereka mungkin sedang tidak beruntung saja.
Keduanya tersisih karena gagal menjadi salah satu dari delapan tim berperingkat ketiga yang berhak lolos ke fase gugur.
Tapi secara umum pencapaian Asia kali ini lebih buruk dari Piala Dunia 2022 ketika benua ini mengirimkan tiga wakil ke fase gugur, yakni Jepang, Korea Selatan, dan Australia.
Kini AFC dan sepak bola Asia harus merenungkan rendahnya persentase “ketidaklulusan” tim-tim Asia ketika turnamen agung ini justru sudah diperluas menjadi 48 tim.
Bayangkan, 43,75 persen dari tim-tim yang gagal mencapai fase gugur Piala Dunia 2026 adalah dari Asia. Itu juga berarti 78 persen atau lebih dari 3/4 tim-tim Asia gagal mencapai babak knockout.
Asia hanya lebih baik dari Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (Concacaf), yang seluruh dari tiga anggotanya (Haiti, Panama, dan Curacao) gagal melenggang ke fase gugur.
Tapi penyelenggara Piala Dunia 2026, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, adalah juga dari zona Concacaf.
Uruguay menjadi satu-satunya tim Amerika Selatan (Conmebol) yang gagal ke babak gugur, sedangkan Skotlandia, Turki dan Republik Ceko menjadi tiga tim Eropa yang tak berhasil menembus 32 besar dari total 16 tim Eropa yang mengikuti edisi ini.
Dari Afrika, hanya Tunisia yang gagal masuk babak ini. Artinya, 90 persen dari 10 tim Afrika berhasil melewati fase grup.
Lalu, hampir separuh dari tim yang finis di urutan terbawah di 12 grup Piala Dunia 2026, berasal dari Asia, yakni Qatar, Arab Saudi, Irak, Yordania, dan Uzbekistan.
Dari 12 tim itu, enam tim selalu kalah dalam tiga pertandingan fase grupnya, yang tiga di antaranya dari Asia, yakni Irak, Yordania, dan Uzbekistan.
Iran kurang beruntung
Dari beberapa ukuran, mayoritas tim-tim Asia bertanding tak begitu atraktif dan tak cukup bersaing.
Dalam hal penguasaan bola misalnya, dari 16 tim yang memiliki penguasaan bola terendah, tujuh di antaranya dari Asia. Yordania adalah tim dengan penguasaan bola terendah di antara 48 tim.
Hanya Australia yang berhasil memanfaatkan kecenderungan ini menjadi keberhasilan menembus knockout.
Fenomena menarik adalah penampilan Iran, yang walau memiliki penguasaan bola yang rendah, dalam beberapa hal mereka tampil mengesankan, yang bahkan tak kalah dari Jepang.
Mereka adalah tim Asia paling tinggi dalam menciptakan peluang dan dalam hal probabilitas gol (xG).
xG Iran menempati peringkat 16 di antara 48 tim Piala Dunia 2026. Dengan xG 4,57, Iran berada di atas Portugal, Kolombia, Maroko dan Meksiko.
Tim Asia Barat ini mengangkangi Korea Selatan dan Jepang sebagai tiga tim dengan xG tertinggi di Asia.
Iran juga menjadi tim Asia paling produktif dalam menciptakan peluang dengan total 37 kesempatan. Namun, dalam urusan melepaskan tembakan tepat sasaran, Team Melli masih berada satu tingkat di bawah Australia dan Korea Selatan.
Arab Saudi menjadi tim Asia yang paling sedikit menciptakan peluang dengan 15 upaya, sedangkan Irak menjadi tim yang paling sedikit membuat peluang on target, yakni hanya dua kali.
Jepang menjadi tim Asia yang paling patut diacungi jempol. Walau finis urutan kedua di grupnya, Jepang adalah tim Asia yang konsisten memainkan sepak bola menyerang dan relatif berhasil dengan caranya itu sehingga dianggap sebagai tim Asia paling sukses.
Sukses Jepang itu sendiri, menurut laporan AFP, dirayakan oleh penggemar sepak bola di luar Jepang, termasuk China.
Itu hanya memperkuat gambaran bahwa sepak terjang pasukan Hajime Moriyasu itu sudah menginspirasi bagian besar ekosistem sepak bola Asia.
Teladan Jepang dan Tanjung Verde
Kini Jepang akan diuji oleh juara dunia lima kali, Brasil, dalam babak 32 besar.
Jika berhasil dengan ujian dari Brasil, Samurai Biru bakal semakin menjadi acuan untuk bagaimana
Jika mampu melewati ujian itu, Samurai Biru akan semakin mengukuhkan diri sebagai tolok ukur perkembangan sepak bola Asia dan bukti bahwa sepak bola Asia berkembang dan kuat.
Namun, jika level Jepang masih terasa terlalu tinggi untuk ditiru negara-negara Asia lainnya, maka mereka setidaknya dapat belajar dari Afrika, yang berhasil meloloskan sembilan wakil ke fase gugur.
Keberhasilan itu menunjukkan bahwa kemajuan sepak bola sebuah konfederasi tidak hanya ditentukan oleh satu tim unggulan, melainkan juga oleh kekuatan yang lebih merata.
Salah satu pelajaran yang bisa dipetik dari Afrika adalah benua ini tak malu-malu mengaryakan pemain-pemain berbasis di luar negeri.
Dari sembilan tim Afrika yang lolos ke fase knockout, hanya Mesir dan Afrika Selatan yang mayoritas pemainnya berasal dari kompetisi domestik, masing-masing dengan sedikitnya 16 pemain. Namun, hal itu tidak mengherankan mengingat liga domestik di kedua negara tersebut memang telah berkembang dan memiliki daya saing yang kuat.
Tujuh tim Afrika lainnya malah diperkuat oleh dua puluhan pemain diaspora. Jumlah terendah ada pada Aljazair dengan 19 pemain, sedangkan terbanyak Pantai Gading dan Kongo dengan masing-masing 25 pemain yang berkarier di Eropa.
Hal serupa juga terlihat pada debutan sekaligus kejutan Piala Dunia 2026, Tanjung Verde, yang banyak bertumpu pada pemain diaspora.
Empat belas dari 26 pemain yang dibawa Tanjung Verde ke Piala Dunia 2026 lahir dan besar di luar negeri, termasuk enam pemain asal Rotterdam di Belanda.
Bedanya dengan negara lain, negara terkecil di dunia yang lolos ke babak gugur putaran final Piala Dunia itu, mau bersabar dengan program pengembangan sepak bola berbasis diasporanya itu.
Mereka sabar untuk tak gonta ganti pelatih, apalagi mengganti pelatih dengan alasan tidak jelas dan tak mempertimbangkan momen. Dengan kesabaran itu, Tanjung Verde memiliki sistem kepelatihan yang stabil.
Sistem yang stabil itu membuat pelatih Pedro “Bubista” Leitao Brito, yang melatih Tanjung Verde sejak Januari 2020 bisa anteng membentuk tim yang kompak, terlatih baik, memiliki pertahanan terorganisir, dan bisa menghimpun para pemain berbakat di semua lini.
Hasilnya pun terlihat nyata. Mereka mampu mengalahkan Ghana dan menahan imbang Mesir dalam perjalanan hingga perempat final Piala Afrika 2023, sebuah pencapaian impresif bagi tim yang baru 10 tahun sebelumnya mencatat debut di turnamen tersebut.
Sistem yang dieksekusi dengan sabar itu kini berbuah manis di Piala Dunia 2026. Dunia malah menantikan gebrakan berikutnya Si Hiu Biru, yang pada 32 besar akan menjajal juara dunia Argentina.
Tentu saja tim-tim Asia bebas mengadopsi sistem yang cocok untuk mereka.Yang penting, format Piala Dunia 48 tim harus dimanfaatkan dengan baik, karena suka atau tidak suka, masuk putaran final, apalagi lolos ke fase gugur, bisa menjadi indikator adanya kemajuan dalam pengelolaan sepak bola di sebuah negara.(ANTARA)
Oleh Jafar M Sidik
Editor : Dadan Ramdani
