Barometer.co.id-Jakarta. Naluri sebagai olahragawan, yang mengantarkannya meraih prestasi nasional hingga international, masih terpatri pada figur Wakil Bupati Minahasa Selatan, Brigjen TNI (Purn.) Theodorus Kawatu, SIP saat melakoni aktifitas keseharian sebagai seorang pejabat daerah.

Terbukti, usai menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan  Pemerintah Daerah yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Sentul Internationan Convention Center, Sentul, Senin 02 Februari 2026, sebelum kembali ke daerahnya, Theodorus Kawatu menyempatkan diri berkunjung ke Stadion Madya, Senayan Jakarta Selatan untuk menjalani olahraga pagi.

Kehadirannya di Stadion Madya Senayan Jakarta, bagi Kawatu bukanlah hal yang baru. Sebab, di lokasi tersebut, puluhan tahun silam, mantan Ketua Harian KONI Sulut dua periode tersebut ditempa oleh tim pelatih saat menjalani Pemustan Latihan Nasional (Pelatnas) Cabang Olahraga Atletik.

Kepada Barometer.co.id, Kawatu menceritakan masa-masa digembleng di Stadion Madya Senayan Jakarta. “Banyak cerita di stadion ini yang sulit terungkap. Karena itu, setiap kali berkunjung ke Jakarta baik dalam tugas maupun urusan pribadi, saya menyempatkan diri datang berolahraga di tempat ini,” kata Kawatu penuh semangat.

Selasa, 3 Februari 2026, Wabup Theodorus Kawatu mengatakan bahwa dirinya kembali hadir di Stadion Madya, Senayan, yang kini telah menjadi pusat latihan untuk cabang olahraga atletik. Saat berolahraga, Kawatu mengaku sempat berjumpa dengan sejumlah atlet yang sedang menjalani program latihan dalam rangka pelatnas. “Ada beberapa atlet Wushu yang sempat berbincang dengan saya di Stadion Madya,” sebut Theodorus Kawatu.

Diceritakan pensiunan jenderal bintang satu tersebut, dari hasil obrolan dengan para atlet pelatnas wushu, ia teringat semasa menjadi penghuni pelatnas saat menjalankan program latihan dari para pelatih. “Tempaan dari para pelatih semasa di Pelatnas menjadi pengalaman berharga bagi saya dalam meniti karir sebagai atlet,” katanya.

Karena, selain meraih prestasi nasional bahkan international di cabang olahraga atletik khususnya jarak menengah, hasil binaan para pelatih saat di Pelatnas juga memberikan kontribusi positif saat ia menempuh pendidikan tinggi hingga akhirnya bergabung di TNI Angkatan Darat.

Jadi, ketika ia menginjakkan kakinya di Stadion Madya Senayan Jakarta, sambil berolahraga jogging, ia juga menerawang cerita-cerita masa lalu bersama kawan-kawan serta para pelatih semasa di Pelatnas. “Waktu itu, Asrama Atlet Pelatnas masih ada di Kawasan Senayan tepatnya di seputaran Jalan Manila, dimana sebagian besar atlet dari cabor yang berlatih di Pelatnas ada di asrama tersebut,” ujarnya.

Pengalaman serta cerita-cerita masa emas yang didapatkan Theodorus Kawatu sebagai atlet nasional yang menghuni Pelatnas, diharapkan menjadi cermin dan motivasi bagi para atlet masa kini meskipun kondisi sekarang berbeda dengan masa-masa latihan di era tahun 1990-an. Apalagi, Sulawesi Utara lebih khusus Kabupaten Minahasa Selatan, memiliki atlet-atlet masa depan cabang olahraga atletik, yang memiliki potensi besar untuk meraih pretasi nasional jika dibina secara serius.(Denny)