Barometer.co.id-Manado. Naiknya harga BBM pada bulan September 2022 memberikan dampak yang besar terhadap Indeks Harga Konsumen (IHK) di Manado. Data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut, akibat naiknya harga BBM, kota Manado mengalami inflasi 1,03 persen. Sementara di Kotamobagu inflasi lebih tinggi lagi, yakni 1,23 persen.
Kepala BPS Sulut, Asim Saputra mengatakan, inflasi sebesar 1,03 persen karena adanya peningkatan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,50 pada bulan Agustus 2022 menjadi 112,65 pada bulan September 2022.
“Penyumbang Inflasi terbesar pada bulan September 2022 yaitu bensin sebesar 0,9060 persen, sedangkan penyumbang deflasi terbesar adalah bawang merah sebesar 0,1859 persen,” kata Asim, Senin (04/10).
Harga BBM yang naik diikuti oleh naiknya tarif angkutan kota. Tidak heran, komodias angkutan kota menjadi penyumbang inflasi terbesar kedua, yakni sebesar 0,3122 persen. Sementara ikan malalugis menjadi penyumbang terbesar ketiga walaupun dari segi persentase hanya 0,0980.
Bahkan di Kotamobagu, tiga besar penyumbang inflasi terkait dengan kenaikan harga BBM. Komoditas penyumbang terbesar adalah bensin yang mencapai 1,0739 persen, kemudian Tarif kendaraan travel 0,3173 persen dan Angkutan antar Kota 0,2192 persen.
Sementara penyumbang deflasi terbesar di Kota Manado adalah bawang merah 0,1859 persen, ikan cakalang 0,0447 persen dan sepatu anak 0,0320 persen. Bawang merah juga menjadi penyumbang deflasi terbesar di Kotamobagu yakni 0,3895 persen, kemudian daun bawang 0,2102 persen dan minyak goreng 0,1657 persen.
Di pulau Sulawesi, kota Manado menempati urutan ketujuh inflasi, sementara Kotamobagu di urutan kedua. Inflasi tertinggi di Pulau Sulawesi terjadi di Palopo sebesar 1,74 persen. Sedangkan inflasi terendah terjadi di Luwuk 0,37 persen.(jm)
