Barometer.co.id-Manado. Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk China, Jauhari Oratmangun, mendorong pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) Sulawesi Utara memanfaatkan peluang ekspor ke pasar China yang terus berkembang.
Dubes RI untuk China menegaskan kesiapan pemerintah melalui perwakilan diplomatik untuk membantu pelaku usaha Indonesia menembus pasar China.
“Pasar China saat ini masih berkembang, khususnya untuk produk makanan dan minuman. Produk kerajinan Indonesia juga cukup diminati. Namun pelaku usaha harus benar-benar memperhatikan aspek harga dan melakukan negosiasi secara cermat, termasuk dalam menentukan term of payment dengan calon pembeli,” ujar Jauhari Oratmangun saat melakukan pertemuan dengan pelaku UMKM Manado di Kawasan Mega Mas, Manado, Sulut, Senin (19/01/26).
Dalam pertemuan tersebut, sejumlah UMKM memamerkan produk unggulan yang berpotensi ekspor, antara lain olahan ikan dan hasil laut, wastra lokal Sulawesi Utara, vanili, serta kerajinan berbahan dasar alam seperti kelapa.
Salah satu pelaku usaha, Suriana dari CV Lyvia Nusa Boga, menyampaikan apresiasi atas kegiatan tersebut.
Ia mengungkapkan bahwa perusahaannya saat ini sedang menjalani proses pendaftaran pada otoritas kepabeanan China atau General Administration of Customs of the People’s Republic of China (GACC), sebagai salah satu prasyarat ekspor ke negara tersebut.
Kepala Kantor Wilayah Ditjen Bea dan Cukai Kemenkeu Sulawesi Bagian Utara dan Tengah, Erwin Situmorang, menekankan pentingnya pemahaman detail prosedur ekspor bagi UMKM.
Menurut dia, ketidaktahuan terhadap regulasi dan mekanisme ekspor berpotensi menimbulkan hambatan di kemudian hari.
Selain itu, Erwin juga menyoroti peluang optimalisasi jalur logistik udara. Ia menyebutkan bahwa ketersediaan kargo penerbangan internasional di Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pengiriman ekspor, khususnya untuk produk bernilai tambah dan berorientasi waktu pengiriman cepat.
Ketua Apindo Sulawesi Utara, Niko Lieke menambahkan bahwa ekspor merupakan proses jangka panjang yang tidak bisa diharapkan langsung menghasilkan keuntungan besar.
Tantangan seperti permintaan diskon tinggi dari pembeli hingga kompleksitas proses pendaftaran GACC, merupakan bagian dari dinamika yang harus dihadapi pelaku usaha.
“Karena itu, UMKM perlu didampingi dan disarankan memiliki kakak angkat atau mitra usaha yang lebih berpengalaman agar dapat masuk ke pasar China secara berkelanjutan,” ujarnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, China menjadi negara tujuan utama ekspor Sulawesi Utara. Sepanjang 2025, nilai ekspor Sulawesi Utara menunjukkan pertumbuhan signifikan, dengan kontribusi terbesar berasal dari perdagangan dengan China.
Kondisi ini membuka peluang besar bagi UMKM daerah untuk ikut mengambil peran dalam rantai pasok global.
Pertemuan yang juga dihadiri perwakilan APINDO dan Balai Karantina Sulut tersebut berlangsung interaktif dan dipandu oleh pengusaha Amelia Tungka. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kesiapan UMKM Sulawesi Utara dalam memanfaatkan momentum pertumbuhan ekspor dan memperluas akses ke pasar internasional, khususnya Tiongkok.(ANTARA)
