Barometer.co.id-Manado. Nilai Tukar Petani (NTP) Sulawesi Utara pada bulan Desember 2025 mengalami penurunan yang cukup dalam sebesar 6,16%, yakni dari 133,42 menjadi 125,21. Namun NTP pada Desember ini mengalami peningkatan 4,78% dibanding tahun lalu.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara, Aidil Adha mengatakan, penurunan disebabkan oleh dua faktor, yaitu menurunnya indeks yang diterima petani serta meningkatkan indeks yang dikeluarkan petani.

“Pada bulan Desember 2025, indeks yang diterima petani turun 4,48 persen, sedangkan indeks yang diterima petani naik 1,41 persen,” kata Aidil.

Jika dilihat dari NTP subsektor, maka ada tiga yang mengalami penuruan, yaitu subsektor Tananman pangan yang turun sebesar 0,19%; subsektor Hortikultura turun sebesar 22,40%, dan subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat turun sebesar 4,54%. Sedangkan dua subsektor lainnya mengalami kenaikan, yaitu subsektor Peternakan yang naik sebesar 0,30% dan subsektor Perikanan yang naik sebesar 0,62%.

“Komoditas yang memberi andil terbesar terhadap penurunan indeks yang diterima petani pada Desember 2025 yaitu tomat, kelapa, pala biji, gabah dan kol/kubis,” jelasnya.

Sementara komoditas yang memiliki andil terbesar terhadap kenaikan indeks yang dikeluarkan petani bulan Desember 2025 yaitu cabai rawit, bawang merah, cakalang, telur ayam ras dan daging babi.

Aidil mengatakan, secara regional di Pulau Sulawesi, hanya Provinsi Sulut yang mengalami penurunan NTP dan juga NTP. Sedangkan provinsi lainnya mengalami kenaikan. Dengan penurunan yang cukup dalam tersebut, NTP Sulut yang pada bulan November 2025 merupakan yang tertinggi di Sulawesi, kini berada di tempat kedua. NTP tertinggi di Pulau Sulawesi terjadi di Provinsi Sulawesi Barat sebesar 129,15, kemudian Gorontalo 120,89, Sulawesi Selatan 119,09, Sulawesi Tenggara 103,54 dan terakhir Sulawesi Tengah 101,89.

Aidil mengatakan, NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat daya beli petani.(jou)