Barometer.co.id-Manado. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Sulawesi Utara memproyeksikan ekonomi Sulawesi Utara tahun 2026 akan tumbuh menguat dibanding 2025 di rentang 5,4%-6,3% (yoy). Diketahui, tahun 2025 lalu, ekonomi Sulut tumbuh 5,66% (yoy).
“Berdasarkan kinerja makroekonomi dan intermediasi perbankan Sulawei Utara sebelumnya, ekonomi pada 2026 diprakirakan akan tumbuh menguat dibandingkan capaian tahun 2025 yakni di rentang 5,4 persen hingga 6,3 persen. Hal ini didorong oleh peningkatan akseptansi digital, bukan saja oleh masyarakat, tapi juga transaksi yang dilakukan oleh pemerintah daerah,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara, Joko Supratikto pada kegiatan refreshment wartawan, Kamis (26/02/26).
ia mengatakan, ketika pemerintah melakukan digitalisasi, harapannya akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). PAD yang semakin meningkat, tentunya akan digunakan untuk konsumsi pemerintah, maupun pembiayaan pada sektor-sektor yang diperlukan oleh masyarakat.
Di samping itu, menurut Joko, optimisme akan menguatnya ekonomi Sulut tahun 2026 adalah pemulihan di sektor pariwisata, reaktivasi direct call Indonesia-Tiongkok melalui Pelabuhan Bitung dan implementasi program prioritas Makan Bergizi Gratis. Di sektor pariwisata, peningkatan terjadi seiring dengan pembukaan rute baru dan penambahan frekuensi penerbangan, baik internasional maupun domestik.
Selanjutnya adalah pningkatan perdagangan internasional yang ditopang oleh potensi reaktivasi Direct-Call Indonesia–Tiongkok melalui Pelabuhan Bitung. “Saat ini kami bersama pemerintah daerah sedang mengusahakan agar direct call lewat laut dari pelabuhan Bitung ke Tiongkok dibuka kembali. Sehingga komoditas ekspor Sulut dapat langsung diekspor melalui pelabuhan Bitung, dan tidak perlu melalui pelabuhan lain di Indonesia,” ujarnya.
Faktor berikutnya yang membuat BI Sulut optimis dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi adalah Implementasi program prioritas dan percepatan Makan Bergizi Gratis (MBG). “Hal ini akan mendorong konsumsi pemerintah dan menjadi demand anchor dari Sektor Pertanian, Perkebunan dan Perikanan Sulut,” kata Joko.(jou)
