Barometer.co.id-Manado. Nilai Tukar Petani (NTP) Sulawesi Utara pada bulan Maret 2026 turun cukup signifikan, yakni sebesar 3,99%. Di mana pada Februari, NTP masih berada di angka 128,50, sementara pada Maret menjadi 123,37. Angka tersebut juga lebih rendah dibanding Maret 2025 yang sebesar 125,57.

“Penurunan NTP Sulawesi Utara pada bulan Maret menjadi sinyal yang perlu diwaspadai,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut, Agus Sudibyo, Rabu (01/04/26).

Agus mengatakan, komponen yang menjadi dasar perhitungan NTP, yaitu indeks harga yang diterima petani (It) dan indeks harga yang dibayar petani (Ib) sama-sama mengalami penurunan. Namun penurunan indeks harga yang diterima petani jauh lebih besar yakni -4,18%, dibanding indeks harga yang dibayar petani -0,20%.

“Artinya, komoditas di tingkat petani, terutama tomat dan kelapa harganya turun di bulan Maret dibanding bulan sebelumnya. Sehingga indeks harga yang diterimanya turun. Tetapi indeks harga yang dibayar turun juga. Tapi penurunannya tidak sebesar penurunan harga komoditasnya. Sehingga NTP turun 3,99 persen,” jelas Agus.

Ia mengatakan, hal ini perlu diwaspadai karena dari lima subsektor, tiga di antaranya mengalami penurunan, yaitu hortikultura (012,52%), tanaman perkebunan rakyat (4,06%) dan peternakan (0,01%). Sedangakn dua subsektor lainnya mengalami kenaikan, yaitu tanaman pangan (0,75%) dan perikanan (1,50%).

Dibanding tahun 2025 lalu, NTP Sulut mengalami tren kenaikan dari Januari hingga puncaknya terjadi pada bulan Juli yang mencapai 134,92. NTP pada bulan Maret 2025 juga naik dibanding Februari.

NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat daya beli petani. Semakin tinggi NTP, maka kemampuan daya beli meningkat dan begitu juga sebaliknya.(jou)