Barometer.co.id-Manado. Inflasi bulanan Provinsi Sulawesi Utara pada bulan Maret 2026 sebesar 0,25% (mtm). Angka inflasi ini lebih rendah dibanding bulan Februari yang mencapai 1,02%. Sementara inflasi tahun kalender mencapai 1,95% (ytd) dan inflasi tahunan 2,20% (yoy).
Secara umum, inflasi setiap kelompok pengeluaran pada Maret 2026 ini lebih merata dibanding bulan Februari. Tidak ada kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi sangat tinggi ataupun deflasi sangat dalam.
“Kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi paling tinggi yakni Transportasi sebesar 0,65 persen dan kesehatan 0,64 persen. Sedangkan kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau mengalami inflasi bulanan 0,38 persen. Sebaliknya, kelompok yang mengalami deflasi terdalam adalah Perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,13 persen,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut, Agus Sudibyo saat menyampaikan rilis Berita Resmi Statistik (BRS), Rabu (01/04/26).
Kelompok pengeluaran yang memberikan andil inflasi paling tinggi adalah Makanan, Minuman dan Tembakau sebesar 0,13%, kemudian Transportasi 0,08%. Kelompok ini memberikan andil inflasi paling tinggi karena memiliki bobot yang paling besar dibanding kelompok lainnya. Sementara kelompok lainnya hanya memberikan andil inflasi yang kecil, yakni 0,02% dan 0,01%.
Agus mengatakan, dari sisi komoditas, juga tidak ada yang menonjol. Paling tinggi adalah Cabai Rawit dengan andil inflasi 0,18%. Sementara komoditas lainnya memberikan andil inflasi yang kecil, yakni di bawah 0,1%.
Begitu juga dengan komoditas penahan inflasi atau yang mengalami deflasi, yang paling dalam adalah tomat -0,31%. Sementara komoditas Daun bawang -0,08% dan lainnya mengalami deflasi 0,03% dan -0,02%.
Secara kewilayahan, Agus mengatakan yang mengalami inflasi tertinggi secara bulanan adalah Kota Kotamobagu sebesar 0,72%. Sementara Kabupaten Minahasa Selatan 0,41% dan Kota Manado 0,32%. Sedangkan Kabupaten Minahasa Utara mengalami deflasi 0,35%.(jou)
