Barometer.co.id-Manado. BPJS Ketenagakerjaan Sulut menggelar kegiatan Monitoring, Evaluasi dan Pelatihan Agen Penggerak Jaminan Sosial Indonesia (Perisai) di Hotel Ibis Manado, Rabu (17/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi ajang evaluasi kinerja sekaligus peningkatan kapasitas agen Perisai dalam memperluas perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan bagi pekerja sektor informal.
Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Sulut dr. Maulana Anshari Siregar menegaskan bahwa Agen Perisai merupakan ujung tombak BPJS Ketenagakerjaan dalam menghadirkan perlindungan bagi pekerja, khususnya di sektor informal.
“Peran Agen Perisai tidak hanya diukur dari jumlah peserta yang direkrut, tetapi juga dari kualitas perlindungan yang diberikan kepada peserta. Saat ini kami mendorong agar peserta tidak hanya mengikuti program dasar, tetapi juga program Jaminan Hari Tua (JHT) sebagai bentuk perlindungan sekaligus tabungan masa depan,” ujarnya.
Berdasarkan hasil evaluasi hingga 15 Juni 2026, tercatat terdapat 27 agen Perisai aktif di Sulawesi Utara. Namun, hanya 13 agen atau sekitar 48 persen yang berhasil mengakuisisi peserta JHT di atas 25 persen dari total peserta yang direkrut.
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan masih besarnya peluang yang dapat dioptimalkan untuk meningkatkan kepesertaan JHT di kalangan pekerja informal.
Dalam kesempatan itu, BPJS Ketenagakerjaan juga memberikan apresiasi kepada sejumlah agen Perisai berprestasi. Salah satunya adalah Febrina Dwi yang berhasil mengakuisisi peserta terbanyak, yakni 2.365 orang. Dari jumlah tersebut, enam peserta telah mengikuti program JHT.
Sementara itu, agen Perisai Frenny mendapatkan penghargaan atas capaian persentase kepesertaan JHT tertinggi. Seluruh 66 peserta yang direkrutnya telah mengikuti program JHT atau mencapai 100 persen.
Penghargaan juga diberikan kepada Agen Frans yang berhasil mencatatkan 188 peserta atau sekitar 87 persen dari total peserta yang direkrutnya telah menjadi peserta JHT.
“Capaian ini membuktikan bahwa peningkatan kepesertaan JHT dalam jumlah besar sangat mungkin dicapai apabila dilakukan secara konsisten dan fokus. Ini menjadi contoh yang bisa diikuti agen Perisai lainnya,” katanya.
Ia menambahkan, ke depan target agen Perisai tidak hanya berorientasi pada jumlah akuisisi peserta, tetapi juga pada peningkatan kepesertaan program JHT.
Menurutnya, JHT memiliki berbagai keunggulan karena peserta dapat menabung tanpa dikenakan biaya administrasi bulanan serta tidak dikenakan pajak untuk saldo tertentu sesuai ketentuan yang berlaku.
“Saya juga berharap, selain merekrut orang agen Perisai mampu menjadi agen edukasi yang menjelaskan manfaat, besaran iuran, hingga ruang lingkup perlindungan seluruh program BPJS Ketenagakerjaan. Jika peserta memahami manfaat program, mereka akan semakin percaya dan merasa terlindungi. Perisai harus mampu memberikan edukasi yang benar kepada masyarakat pekerja,” ujarnya.
Dirinya juga mengingatkan pentingnya perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan mengingat risiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja masih terjadi setiap waktu. Dengan menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan, pekerja dapat terhindar dari beban biaya pengobatan yang nilainya bisa mencapai jutaan rupiah.
“Melalui kegiatan monitoring, evaluasi dan pelatihan ini, BPJS Ketenagakerjaan berharap para agen Perisai semakin aktif memperluas cakupan perlindungan serta meningkatkan kepesertaan program JHT di Sulawesi Utara,” kuncinya.(jou)
