Barometer.co.id-Manado. Untuk pertama kalinya di tahun 2026, Provinsi Sulawesi Utara mengalami deflasi yakni 0,61% (mtm) yang terjadi pada bulan Mei. Dengan deflasi yang terjadi pada bulan Mei, Inflasi tahun kalender Sulawesi Utara hingga bulan Mei sebesar 2,30% (ytd). Sedangkan inflasi year on year sebesar 2,33%.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara, Watekhi mengatakan, deflasi yang terjadi pada bulan Mei terutama disebabkan oleh deflasi yang terjadi pada kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau yang mencapai 2,28% (mtm). “Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau pun memberi kontribusi deflasi paling besar yang mencapai 0,78 persen,” kata Watekhi saat menyampaikan rilis Berita Resmi Statistik (BRS), Selasa (02/06/26).
Kontribusi deflasi kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau yang sebesar 0,78% (mtm) bahkan lebih tinggi dari deflasi secara keseluruhan yang sebesar 0,61%. Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi terbesar adalah Informasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan sebesar 0,83% (mtm) dan Transportasi sebesar 0,52% (mtm). “Dua kelompok ini pun menyumbang inflasi paling besar yakni masing-masing 0,05 persen dan 0,06 persen,” kata Watekhi.
Kelompok lainnya yang memberi andil inflasi 0,05% adalah Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga, di mana inflasi kelompok ini pada bulan Mei 0,33% (mtm).
Untuk komoditas yang mengalami deflasi, lima besar berasal dari kelompok Makanan, yakni cabai rawit (-0,45%), Ikan Tude (-0,09%), Ikan Malalugis (-0,08%), Bawang Merah (-0,07%) dan Ikan Cakalang (-0,06%).
Sebaliknya, komoditas yang mengalami inflasi yaitu tomat (0,16%), Angkutan Udara (0,03%), Telepon Seluler (0,03%), Pasir (0,02%) dan Cabai Merah (0,02%).(jou)

