Barometer.co.id-Bolsel. Harga beberapa komoditas, terutama Bawang, Rica, Tomat (Barito) di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) berfluktuasi sejak tahun 2025. Untuk itu, perlu dilakukan penguatan ketahanan pangan untuk agar harga stabil dan inflasi terjaga.
Hal ini disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulawesi Utara, Joko Supratikto pada kegiatan High Level Meeting (HLM) Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Boltim, Rabu (20/05/26).
Berdasarkan data historis Bank Indonesia, terdapat dua isu strategis yang perlu menjadi perhatian. “Poin pertama berkaitan dengan harga beberapa komoditas yang cenderung fluktuatif di Bolsel, terutama tomat, cabai rawit, dan bawang merah,” kata Joko.
Ia mengatakan, sejak 2025, rentang harga tomat tercatat paling volatil di antara dua komoditas lainnya, yaitu dari Rp6.500 sampai dengan Rp21.000 per kilogramnya. Kemudian cabai rawit sempat menembus Rp 85.000 pada pertengahan 2025 disebabkan oleh kelangkaan pasokannya. Terakhir, bawang merah tercatat memiliki rentang harga Rp 40.000 sampai dengan Rp 65.000 per kilogramnya.
“Mengingat kemiripan tren pergerakan dengan Kotamobagu, besar kemungkinan volatilitas harga tersebut turut dipengaruhi pasokan dari luar daerah,” ujar Joko.
Poin kedua yang menjadi isu strategis menurut Joko berkaitan dengan relatif terbatasnya jumlah kelembagaan kelompok tani yang bergerak pada bidang hortikultura. Perluasan kelompok tani menjadi langkah strategis untuk membangun basis sentra produksi guna mendukung pemenuhan kebutuhan pasokan pangan regional.
Oleh karena itu, penguatan ketahanan pangan menurut Joko dapat ditempuh dengan empat cara. Pertama adalah Penguatan kelembagaan petani. “Melalui kelembagaan yang kuat, seperti kelompok tani atau koperasi, petani dapat memiliki struktur organisasi yang lebih tertata, pencatatan usaha yang lebih tertib, serta kapasitas produksi yang lebih terkoordinasi,” ujar Joko.
Kondisi tersebut menurutnya akan meningkatkan kepercayaan berbagai pihak sehingga petani menjadi lebih bankable. Di sisi lain, bantuan input produksi, khususnya benih unggul dan pupuk, akan mendorong mendorong peningkatan produktivitas.
Dari sisi hilir, pengembangan bisnis pasca panen, terutama komoditas barito dapat memberikan nilai tambah komoditas pertanian. Penguatan kelembagaan ini juga dapat memperkuat posisi tawar petani dalam pemasaran melalui konsolidasi penjualan hasil panen sehingga dapat menurunkan ongkos angkut.
Kedua adalah Peningkatan Produktivitas Lahan. “Hal ini dapat dilakukan melalui penerapan kalender tanam dan diversifikasi komoditas sehingga keberlanjutan pasokan dapat terjaga sepanjang tahun, serta memitigasi risiko gagal panen akibat anomali iklim,” katanya.
Berikutnya, perlu dilakukan Gerakan Pangan Murah (GPM) untuk memberikan keterjangkauan harga bagi masyarakat. Di tengah keterbatasan anggaran, GPM dapat dipertajam melalui prinsip 3 Tepat, yaitu: pertama Tepat Waktu, yakni pada periode potensi kenaikan harga. Kedua Tepat Lokasi, difokuskan pada pasar referensi PIHPS (Pusat Informasi Harga Pangan Strategis) dan wilayah dengan tingkat konsumsi atau kepadatan tinggi, serta ketiga Tepat Sasaran, menyasar komoditas yang memerlukan intervensi.
“Selain itu, kelancaran distribusi pada saat terjadi peningkatan tekanan harga dapat dikendalikan melalui Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP). FDP merupakan upaya gotong royong antar lembaga untuk mengoptimalkan jalur distribusi melalui subsidi ongkos angkut sehingga harga akhir di konsumen bisa lebih terkendali,” kata Joko.
Sidak pasar tradisional dan modern, perlu terus digencarkan untuk memastikan ketahanan pasokan dan kestabilan harga khususnya di periode peningkatan permintaan. Serta koordinasi dengan Satgas Pangan dan Aparat Penegak Hukum (APH) untuk melakukan pemantauan ketidakwajaran kenaikan harga, gangguan distribusi, dan penimbunan bahan pokok, termasuk BBM dan LPG.
“Sebagai penutup, ekspektasi masyarakat perlu dijaga untuk memastikan masyarakat paham bahwa stok aman dan Pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas harga,” jelas Joko.(jou)
