Barometer.co.id-Manado. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Sulawesi Utara optimis prospek perekonomian Sulawesi Utara tahun 2026 tetap tumbuh positif. Hal ini tercermin dari survei yang dilakukan KPw BI Sulut di tiga indikator yakni Indeks Keyakinan Konsumen, Aktivitas Dunia Usaha dan Konsumsi serta Penjualan eceran.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara, Purwanto pada acara Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi Sulawesi Utara, Kamis (30/07/26) mengatakan, survei di tiga indikator tersebut menunjukkan hasil yang positif.

“Indikator pertama yaitu Survei Konsumen Bank Indonesia. Hasil surveinya yakni Indeks Keyakinan Konsumen sebesar 128,1, Indeks Ekspektasi Konsumen sebesar 146,0, dan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini sebesar 110,2. Seluruh indikator tersebut masih berada pada level optimistis atau di atas 100,” kata Purwanto.

Ia mengatakan, optimisme juga terlihat dari aktivitas dunia usaha dan konsumsi masyarakat. Di mana survei Kegiatan Dunia Usaha pada Triwulan II 2026 mencatat Saldo Bersih Tertimbang kegiatan usaha sebesar 35,0%

Sementara Survei Penjualan Eceran menunjukkan, Indeks Penjualan Riil Manado tumbuh 15,1% (yoy) pada Juni 2026.

“Dengan mempertimbangkan perkembangan tersebut, ekonomi Sulawesi Utara pada 2026 diprakirakan tumbuh dalam kisaran 5,4–6,3 persen. Pertumbuhan tersebut diperkirakan berlangsung dengan inflasi yang tetap terjaga dalam sasaran nasional sebesar 2,5% ± 1%,” jelas Purwanto.

Ia mengatakan, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara yang lebih tinggi dan berkelanjutan, diperlukan penguatan agenda akselerasi pada sektor-sektor unggulan daerah. Salah satu fokus utama yang dinilai memiliki potensi besar adalah hilirisasi sektor pertanian, khususnya komoditas kelapa.

Kelapa memiliki peran strategis dalam struktur perekonomian Sulawesi Utara. “Tanaman perkebunan menyumbang sekitar 38,13 persen terhadap subsektor pertanian dan peternakan, sementara luas perkebunan rakyat kelapa mencapai sekitar 264,60 ribu hektare. Dengan luasan tersebut, Sulawesi Utara menempati peringkat kedua sebagai provinsi dengan areal perkebunan kelapa terluas di Indonesia,” kata Purwanto.

Potensi tersebut menurutnya perlu dioptimalkan melalui penguatan rantai nilai dari hulu hingga pasar ekspor. Pengembangan tidak hanya diarahkan pada peningkatan produktivitas kelapa rakyat, tetapi juga pada diversifikasi produk olahan primer dan lanjutan, seperti minyak kelapa, VCO, santan, nata de coco, serta produk turunan lainnya. Hal ini didukung oleh kinerja ekspor HS-15 yang tumbuh 5,89% pada Januari–Mei 2026, dengan pangsa sebesar 73,48% dan tujuan utama ekspor ke Amerika Serikat, Tiongkok, dan Filipina.(jou)