Barometer.co.id-Manado. Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) mencatat terjadi satu kali letusan eksplosif kecil dari kawah utara Gunung Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulut pada periode pengamatan Jumat (29/10).
“Telah terjadi erupsi Gunung Karangetang pada tanggal 29 Oktober 2026 pukul 19:27 WITA namun tinggi kolom abu tidak teramati,” kata personel Pos PGA Karangetang, Vieko Kristianse Rompas, dalam laporan yang dibagikan dalam grup percakapan ‘Info Gunung Api Sitaro’ di Manado, Jumat.
Erupsi tersebut terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 50 mm dan durasi sementara ini lebih kurang 1 menit 20 detik.
“Teramati erupsi eksplosif kecil dengan lontaran material pijar dengan tinggi lebih 200-300 meter dengan jarak lontaran 400-700 meter di sekitar puncak kawah utara,” ujarnya.
Kemudian, diikuti dengan erupsi efusif berupa guguran lava pijar ke arah selatan lebih kurang 700 meter lalu berbelok ke arah barat daya dan barat lebih 300-400 meter.
Luncuran lava pijar ke arah barat daya dan barat menuju ke Kali Hiung, Kali Sumpihi, Kali Kinali, Kali Pangi, dan Kali Kiawang) lebih kurang 700-1.000 meter.
Selanjutnya, lava yang mengalir ke arah barat laut mengalir ke kali Malrbuhe, Kali Batukole dan Kali Batuare sejauh 500-700 meter.
“Suara gemuruh dan dentuman dari kawah utara terdengar lemah hingga kuat,” katanya menambahkan.
Pada periode pengamatan tersebut, terekam satu kali gempa letusan, 21 gempa guguran, 103 kali gempa embusan, 15 kali gempa tremor non-Harmonik, 33 kali gempa tremor harmonik, satu kali gempa hybrid/fase banyak, enam kali gempa vulkanik dangkal, satu kali gempa terasa, serta lima kali gempa tektonik jauh.
Tingkat aktivitas Gunung Karangetang saat ini Level II (Waspada) dengan rekomendasi di antaranya masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 1.5 kilometer dari puncak kawah dua (kawah utara) dan kawah utama (selatan) serta area perluasan sektoral ke arah selatan barat daya sejauh 2.5 kilometer.
Mewaspadai guguran lava dan awan panas guguran yang dapat terjadi sewaktu-waktu dari penumpukan material lava sebelumnya karena kondisinya belum stabil dan mudah runtuh, terutama ke sektor selatan, tenggara, barat dan barat daya.
Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak Gunung Karangetang meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.(ANTARA)
