Barometer.co.id-Jakarta. Dokter Umum Rumah Sakit Prikasih, Fatmawati, Jakarta Selatan, Gia Pratama mengingatkan bahaya minuman berwarna yang dapat meningkatkan risiko gagal ginjal.
Hal tersebut disampaikan Gia merespons peningkatan kasus gagal ginjal kronis di Indonesia yang menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2023 mencapai 638.178 jiwa.
“Sekarang kalau diumpamakan, kalian lebih suka cuci piring pakai air jernih, air putih, atau air berwarna? Air putih, kan? Kalau kita pakai Coca-Cola atau minuman bersoda itu kan lengket, jadi sebal kan? Ginjal itu kalau bisa diumpamakan ya seperti mencuci piring kotor itu. Kalau sudah berwarna (air yang dimasukkan dalam tubuh), terus jumlahnya sedikit, menyiksa banget, akhirnya dia capek, jadi ‘Ah bodo amat, ngapain aku nyuci piring?’ itulah yang kemudian disebut gagal ginjal,” kata Gia di Jakarta pada Selasa (27/01/26).
Gia mengemukakan kasus gagal ginjal kronis stadium 5 pada anak muda sebagian besar disebabkan oleh faktor gula darah dan tekanan darah tinggi, serta gaya hidup tidak sehat, termasuk salah satunya konsumsi minuman berpemanis atau berwarna yang berlebihan.
“Pasienku itu 30 persen karena gula darah tinggi, 30 persen karena tekanan darah tinggi, 40 persen karena gaya hidup yang macam-macam (tidak sehat),” ucapnya.
Ia juga menegaskan kadar konsumsi air putih yang ideal yakni 40 cc per kilogram per berat badan per hari.
“Kalau diumpamakan mencuci piring kotor tadi, maka jumlah air putihnya kan harus cukup, misalnya 60 kg ya kalikan dengan 40, berarti 2400 CC, cicil aja dalam 24 jam, maka happy (senang) deh ginjalnya, siul-siul nyuci darahnya,” ucap Gia.
Ia juga mengingatkan pentingnya cek kesehatan setiap setahun sekali bagi yang berusia 35 tahun ke atas sebagai tindakan preventif untuk mengetahui perbaikan-perbaikan gaya hidup yang diperlukan.
“Pasien itu seringkali hanya datang ke rumah sakit kalau sudah parah, periksa gula darah enggak pernah, periksa tekanan darah juga jarang, padahal itu penting karena kalau ada yang kurang bisa langsung diperbaiki sebelum berantakan ke depannya. Kalau sudah sadar tekanan atau gula darah tinggi, minumnya dicukupkan, gula-gulanya mulai dikurangi, garam-garamnya juga mulai dikurangi,” tutur Gia.(ANTARA)
