Barometer.co.id-Manado. Gubernur Sulut Yulius Selvanus mengatakan pertanian merupakan pilar utama pembangunan daerah serta tulang punggung perekonomian daerah karena menjadi penyumbang terbesar kedua pada pertumbuhan ekonomi setempat.
“BPS mencatat, pertumbuhan ekonomi Sulut (y-on-y) pada triwulan II 2026 tumbuh 5,42 persen dengan penyumbang terbesar kedua adalah pertanian pada angka 0,94,” kata Gubernur Yulius pada Rakerda Pembangunan Pertanian dan Apel Siaga Penyuluh Pertanian se Provinsi Sulut di Manado, Kamis (19/08/26).
Selain pertumbuhan ekonomi, kabar baik untuk petani kita yaitu Nilai Tukar Petani (NTP) Sulut pada Agustus 2026 juga berada di angka 129,56, artinya daya beli petani meningkat dan pendapatan petani lebih tinggi dari pengeluaran.
“Di balik angka-angka tersebut, ada keringat para penyuluh pertanian dalam mendampingi petani yang saat ini di bawah koordinasi Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Utara.
Pemerintah Provinsi dan seluruh masyarakat Sulut menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para penyuluh pertanian.
Gubernur menyebutkan, Rakerda Pembangunan Pertanian dan Apel Siaga Penyuluh Pertanian tersebut merupakan langkah strategis memperkuat peran penyuluh pertanian sebagai ujung tombak pembangunan sektor pertanian.
“Momentum ini dapat menjadi ruang meningkatkan kapasitas, kompetensi, dan profesionalisme penyuluh dalam menghadapi tantangan di lapangan, termasuk dalam penerapan teknologi pertanian, peningkatan produktivitas, serta penguatan ketahanan pangan,” kata Gubernur.
Pada acara itu Kadis Pertanian Sulut Nova Pangemanan mengatakan, rakerda tersebut menjadi momen menyatukan langkah seluruh pihak dalam mengawal pembangunan pertanian termasuk mengantisipasi perubahan iklim, khususnya ancaman El Nino yang diperkirakan masih berlangsung hingga September 2026.
Menurut dia, jajaran pertanian Sulut telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi untuk menekan dampak kemarau terhadap produksi pertanian.
“Kita sudah melakukan pemetaan wilayah yang rawan kekeringan, mengoptimalkan sumber air, mempercepat tanam dan mendorong penggunaan varietas yang tahan terhadap kekeringan,” jelasnya.
Selain itu, pengelolaan air irigasi terus dioptimalkan melalui rehabilitasi jaringan irigasi, embung, sumur air dangkal serta pemanfaatan pompanisasi dan perpipaan.
Nova menambahkan, pengaturan pola tanam juga penting agar disesuaikan dengan kondisi iklim dan ketersediaan air di masing-masing wilayah.(ANTARA)
