Barometer.co.id-Manado. Balai Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP) Sulawesi Utara ikut melakukan penanaman 1.000 pohon bersama ibu negara Iriana Joko Widodo dan Ibu Wury Ma’ruf Amin, Rabu (01/02/23).

Penananam 1.000 pohon di Sulawesi Utara dilakuan bersama BSIP Tanaman Palma, Balai Karantina Pertanian Manado dan Dinas Pertanian dan Peternakan Sulawesi Utara.

Ibu Negara melakukan penananam pohon di komplks Candi Borobudur Magelang, Jawa Tengah. Sementara di Sulawesi Utara, penananam pohon dilakukan di depan kantor BSIP Sulawesi Utara di Kalasey, Kabupaten Minahasa. Kegiatan ini juga dilakukan serentak di seluruh Indonesia.

Pohon yang ditanam yaitu mangga arumanis, pala dan kelapa. Jumlah pohon yang ditanam di Kalasey pada program penanaman 1.000 pohon ini sebanyak 55 pohon.

Kepala BSIP Sulawesi Utara, Dr Femmy Nor Fahmi Spi, Msi mengatakan, kegiatan ini sejalan dengan program Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara yakni Mari jo Bakobong. “Nantinya program ini dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakt. Sebab pohon yang ditanam ini nantinya akan menghasilkan dan bisa dijual sehingga menghasilkan pendapatan,” ujar Femmi usai menanam pohon.

Ia mengatakan, pihaknya akan menerapkan standardisasi dan sertifikasi dari hulu ke hilir terhadap sejumlah tanaman. Dan untuk melakukan hal ini, BSIP Sulawesi Utara tidak melakukannya sendiri, melainkan bekerjasama dengan stakeholder, seperti BSIP Tanaman Palma, Karantina Pertanian Manado dan Dinas Pertanian Sulut.

“Salah satu tanaman yang sudah kami sertifikasi adalah pala, yang sudah berbuah saat berumur 2,5 tahun,” ujarnya.

Kepala BSIP Tanaman Palma Sulawesi Utara, Dr Steivie Karouw mengatakan, pihaknya menyiapkan teknologi untuk menstadardisasi dari hulu sampai hilir. “Saat ini tanaman yang kami siapkan adalah bibit kelapa,” katanya.

Menurutnya, jika dari hulu tidak berstandar, maka tanaman tersebut tentu tidak akan berproduksi sesuai dengan potensinya. Hasilnya akan berpengaruh pada tujuan ke depan yakni menjadi bahan baku industri,” tambah Steivie.

Sementara Kepala Balai Karantina Pertanian Manado, Ir. Yusuf Patiroy, MM mengatakan, BKP berada di hilir. “Hulunya adalah menanam. Karantina berada di ujung untuk memastikan produk yang akan diekspor memenuhi persyaratan di negara tujuan,” kata Yusuf yang menambahkan, pihaknya juga melakukan bimbingan kepada petani supaya produk yang dihasilkan bisa diterima di negara tujuan.

Kepala BPTP Distanakda Sulut, Roin Saroinsong SP MSi mengatakan ada beberapa hal yang harus dipenuhi agar tanaman memenuhi syarat untuk diekspor. Pertama adalah tanaman tersebut harus tersertifivasi dan kedua adalah petani harus tahu cara budi daya yang benar.

“Hal ini perlu dilakukan supaya saat dibawa ke Balai Karantina, produk yang dihasilkan sudah bersih dan memenuhi syarat. Sehingga hasil pertaniannya dapat dijual baik ke mancanegara ataupun di Indonesia,” kata Roin.(jm)