Barometer.co.id-Manado. Pergerakan harga komoditas biasanya mengikuti jumlah pasokan. Jika pasokan stabil dan cukup, maka harga cenderung rendah. Namun yang terjadi di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), untuk beberapa komoditas tingkat harga tinggi walaupun stok stabil.
Hal ini disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulawesi Utara (Sulut), Joko Supratikto saat High Level Meeting (HLM) Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Boltim, Selasa (19/05/26).
“Secara historis, pergerakan harga komoditas di Boltim cenderung sejalan dengan Kota Kotamobagu sebagai basis distribusi utama. Namun demikian, mayoritas komoditas memiliki rata-rata tingkat harga yang lebih tinggi dibanding Kotamobagu, terutama cabai rawit dan daging ayam ras meskipun stok cenderung stabil sepanjang tahun,” kata Joko.
Sementara itu, menurutnya, komoditas seperti beras, bawang merah dan bawang putih menunjukkan pergerakan harga yang relatif lebih stabil, tetapi tetap perlu menjadi perhatian bersama karena jumlah ketersediaanya cenderung bergejolak sepanjang tahun.
Ia mengatakan, tingkat pasokan beras perlu dipantau mengingat pada minggu kedua Mei 2026, Boltim merupakan salah satu kabupaten yang mengalami kenaikan harga beras mencapai sebesar 0,93% (BPS). Sedangkan daging ayam ras dan cabai rawit memiliki pola peningkatan harga menjelang Ramadan dan HBKN Idul Fitri 2025 dan 2026. “Hal ini perlu kita antisipasi bersama menjelang HBKN Idul Adha 2026,” ujarnya.
Joko mengatakan, berdasarkan data historis dari pemantauan harga, terdapat 2 isu strategis yang perlu menjadi perhatian. Pertama berkaitan dengan Potensi Boltim sebagai sentra Produksi Cabai Rawit Sulut.
“Komoditas Unggulan Boltim ini mengalami surplus produksi relatif terhadap kebutuhannya sepanjang tahun 2025 sampai dengan 2026. Rata-rata produksi mencapai 117,41 ton, dengan rata-rata kebutuhan hanya berkisar 51,49 ton. Kedua adalah tekanan harga bawang merah di Boltim yang lebih tinggi dibanding dengan wilayah Bolmong Raya lainnya. Tren ini dapat kita observasi sejak Januari 2025 hingga saat ini. Tekanan tersebut mengindikasikan perlunya efisiensi rantai pasok bawang Merah,” jelas Joko.
Dengan demikian, diperlukan penguatan ketahanan pangan yang dapat ditempuh dengan peningkatan produktivitas yang dapat ditempuh melalui penguatan kelembagaan petani serta penguatan peran BUMD dalam rantai pasok pangan.(jou)
