Barometer.co.id-Manado. Inflasi Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) tahun 2025 sebesar 1,23% secara year on year (yoy) atau tahunan. Angka tersebut berada di bawah rentang sasaran inflasi nasional yang sebesar 2,5% +/- 1% atau antara 1,5% sampai 3,5%.
Ini berarti untuk kedua kalinya secara berturut-turut, inflasi Sulut berada di bawah target nasional. Tahun 2024, inflasi Sulut bahkan lebih rendah lagi, yakni hanya 0,44%.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut, Aidil Adha mengatakan, dari 11 kelompok pengeluaran, tujuh di antaranya mengalami inflasi, sedangkan empat lainnya mengalami deflasi. Inflasi tahunan terbesar ada pada kelompok pengeluaran Pendidikan sebesar 12,22% dan Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya yang mencapai 10,77%.
Andil inflasi tahunan dua kelompok pengeluaran tersebut masing-masing 0,37% dan 0,66%. Sementara Kelompok Pengeluaran Makanan, Minuman dan Tembakau mengalami inflasi 0,92% dan memberi andil inflasi tahunan 0,31%.
Sementara Kelompok Pengeluaran yang mengalami deflasi terbesar yaitu Pakaian dan Alas Kaki yakni sebesar 3,83% dan memberi andil inflasi -0,22%. Kelompok lainnya dengan deflasi terbesar yaitu Rekreasi, Olahraga dan Budaya sebesar 3,71% dengan andil inflasi -0,05%.
“Untuk komoditas pendorong inflasi tahunan yang terbesar adalah emas perhiasan sebesar 0,53 persen, beras 0,49%, Akademi/Perguruan Tinggi 0,25 persen, Bawang Merah 0,17 persen dan Daun Bawang 0,10 persen,” kata Aidil, Senin (05/01/26).
Sedangkan komoditas penahan inflasi atau yang mengalami deflasi tertinggi yaitu Daging Babi -79%, Tomat -0,26%, Bawang Putih -0,09%, Buku Tulis -0,06% dan Angkutan Udara -0,05%.

Aidil mengatakan, dari empat daerah yang menjadi perhitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) atau perhitungan inflasi, yang tertinggi terjadi di Kotamobagu sebesar 2,09%, kemudian Manado 1,55%, Minahasa Selatan 0,46% dan Minahasa Utara 0,38%.
Komoditas utama pendorong inflasi di Kotamobagu, Manado dan Minahasa Utara adalah emas perhiasan, sedangkan di Minahasa Selatan adalah beras. Sementara komoditas penahan inflasi terbesar di tiga daerah, yaitu Manado, Minahasa Selatan dan Minahasa Utara adalah Daging Babi.
Sementara inflasi Sulut pada bulan Desember 2025 secara bulanan sebesar 0,51%. Lima komoditas pendorong inflasi yaitu cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, daging babi dan emas perhiasan. Sedangkan komoditas penahan inflasi adalah tomat, beras, jam tangan, daun bawang dan baju kaos tanpa kerah/T-shirt wanita.(jou)
