Barometer.co.id-Manado. Provinsi Sulawesi Utara mengalami inflasi 0,96% mtm (month to month) pada bulan April 2026. Inflasi ini terutama disebabkan oleh kenaikan harga tomat, angkutan udara dan juga cabai rawit. Sementara inflasi tahun kalender sampai dengan April 2026 sebesar 2,93%.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara, Watekhi mengatakan, tomat memberi andil inflasi yang paling tinggi yakni sebesar 0,43%. “Naiknya harga tomat dan juga cabai rawit pada bulan April dipengaruhi oleh terbatasnya pasokan dari daerah sentra produksi akibat belum memasuki masa panen,” kata Watheki saat menyampaikan rilis Berita Resmi Statistik (BRS), Senin (04/05/26).

Ia mengatakan, Tarif angkutan udara juga mengalami kenaikan pada Bulan April 2026 karena naiknya harga avtur. Di mana hal ini menyebabkan biaya operasional juga meningkat. Angkutan udara memberi andil inflasi terbesar kedua yakni 0,19%, sedangkan cabai rawit 0,06%.

Sebaliknya menurut Watekhi, komoditas yang menahan inflasi atau yang mengalami deflasi yaitu daun bawang, emas perhiasan dan ikan deho, masing-masing -0,09%, 0,04% dan -0,03%.

Secara umum, inflasi di Sulut pada April 2026 terjadi karena tingginya inflasi pada kelompok pengeluaran Makanan, minuman dan tembakau yang mencapai 2,06%. Kelompok ini pun memberi andil inflasi tertinggi yakni 0,68%.

Selanjutnya adalah kelompok Transportasi yang mengalami inflasi 1,70% dengan andil 0,21%.

“Lima Kelompok pengeluaran lainnya mengalami inflasi di bawah 1 persen, dan tiga lainnya mengalami deflasi,” kata Watekhi yang baru menjabat sebagai Kepala BPS Sulut ini.

Untuk inflasi year on year pada bulan April 2026 sebesar 2,14%. Kelompok pengeluaran dengan inflasi terbesar adalah Perawatan pribadi dan jasa lainnya 10,00%, Pendidikan 9,67%, dan Transportasi 3,51%. Andil inflasi terbesar disumbang oleh kelompok Perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,63%, Manakan, minuman dan tembakau 0,56% dan transportasi 0,43%.(jou)