Barometer.co.id-Jakarta. Transformasi digital menjadi semakin penting untuk meningkatkan produktivitas, memperluas pasar, dan mendorong Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) naik kelas di tengah pesatnya perkembangan ekonomi digital.
Untuk itu, Bank Indonesia terus mendorong UMKM untuk go digital melalui tiga strategi utama, yaitu (i) e-farming melalui digital farming untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi; (ii) e-commerce melalui onboarding UMKM untuk memperluas akses pasar digital; (iii) e-financing melalui Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan (SIAPIK) untuk memperkuat pencatatan laporan keuangan dan akses pembiayaan.
Demikian disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta, saat membuka Innovation Talk Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 bertema “Akselerasi Transformasi Digital UMKM: Integrasi Inovasi Digital Menuju UMKM Naik Level” di JICC Jakarta (21/8). Kegiatan tersebut diikuti oleh peserta dari kementerian/lembaga, UMKM binaan, akademisi, dan lembaga keuangan.
Lebih lanjut, Filianingsih menekankan pentingnya penguatan ekosistem inovasi digital untuk mendorong transformasi dan daya saing UMKM. Bank Indonesia terus memperkuat upaya tersebut, salah satunya melalui pengembangan Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) yang menghubungkan talenta, inovator, industri, pemerintah dan mitra strategis untuk menghasilkan solusi digital yang relevan dan dapat diterapkan di sektor riil, termasuk UMKM.
“Dengan talenta yang berdaya, inovasi yang implementatif dan ekosistem yang saling menguatkan, kami optimis UMKM Indonesia akan terus bertransformasi, bertumbuh dan naik kelas, serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang semakin inklusif dan berkelanjutan”, pungkas Filianingsih.
Digitalisasi turut mendorong transformasi usaha petani binaan Bank Indonesia Sulawesi Utara. Hingga 2026, terdapat 6 kelompok tani yang tergabung dalam PATUA (Petani Unggulan Sulawesi Utara) telah mengadopsi digital farming, melalui pemanfaatan smart greenhouse dan drone sprayer untuk komoditas rica (cabai), bawang merah dan padi. Pemanfaatan teknologi tersebut meningkatkan efisiensi budidaya, khususnya melalui penggunaan pupuk dan bahan produksi yang lebih tepat takaran, sehingga menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan produktivitas dan daya saing petani.
Di sisi lain, hingga Juli 2026 tercatat lebih dari 150 UMKM binaan Bank Indonesia Sulawesi Utara telah terdigitalisasi melalui integrasi dengan e-commerce dan pencatatan keuangan melalui SIAPIK. Digitalisasi ini memperluas jangkauan pemasaran produk UMKM Sulawesi Utara hingga pasar nasional dan global serta mendorong pengelolaan usaha yang lebih tertib dan transparan sehingga memperkuat kesiapan UMKM dalam mengakses pembiayaan dari lembaga keuangan, baik bank maupun nonbank.
Bank Indonesia terus mendorong transformasi digital UMKM di Sulawesi Utara yang tercermin dari semakin meningkatnya akseptasi pembayaran digital salah satunya melalui QRIS. Hingga Juli 2026, QRIS telah digunakan oleh 388 ribu merchant dengan 95,36% di antaranya merupakan UMKM. QRIS juga telah memfasilitasi transaksi UMKM Sulut hingga Rp3,5 Triliun sampai dengan Juli 2026. Hal tersebut menunjukkan bahwa perluasan QRIS tidak hanya mempermudah transaksi, namun juga mendorong UMKM semakin terhubung dengan ekosistem ekonomi dan keuangan digital serta mampu bersaing di era ekonomi digital.
Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk mengakselerasi transformasi digital UMKM. Dengan semangat Mapalus, Gotong Royong, transformasi digital diharapkan mampu melahirkan UMKM yang semakin adaptif, inovatif, dan berdaya saing untuk tumbuh dan naik kelas serta menjadi sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.
Mari semarakkan KKI 2026 dengan mengunjungi pameran secara langsung di Hall A dan B JICC, Jakarta, maupun secara daring melalui situs www.karyakreatifindonesia.co.id. Bersama, kita dukung UMKM Indonesia untuk bangkit, tangguh, berdaya saing, dan menjadi kebanggaan bangsa.(jou)
