Barometer.co.id-Manado. Provinsi Sulawesi Utara mengalami inflasi 0,29% pada bulan Agustus 2026, setelah pada bulan Juli mengalami deflasi yang cukup dalam, yakni 1,05%. Inflasi tahun kalender sampai dengan Agustus 2026 pun kini sebesar 3,68%, atau sedikit di atas rentang target nasional. Sedangkan inflasi tahunan sampai dengan Agustus 2026 sebesar 3,99%.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara, Watekhi saat menyampaikan rilis mengatakan, inflasi terbesar terjadi pada kelompok transportasi yakni sebesar 0,71%, kemudian Pendidikan 0,63% dan Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau sebesar 0,57%.
“Untuk andil inflasi terbesar, disumbang oleh kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yakni sebesar 0,19 persen. Sedangkan kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar kedua dengan andil 0,09 persen,” kata Watekhi saat menyampaikan rilis BPS, Selasa (01/09/26).
Untuk komoditas yang mengalami inflasi tertinggi adalah cabai rawit sebesar 0,33%, kemudian kangkung 0,14% dan angkutan udara 0,07%. Sebaliknya komoditas yang mengalami deflasi terbesar yaitu tomat 0,48%, bawang merah 0,07% dan bawang putih 0,06%.
Watekhi mengatakan, dari empat daerah yang dilakukan perhitungan Indeks Harga Konsumen (IHK), semuanya mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Minahasa Utara sebesar 0,92%, kemudian Kabupaten Minahasa Selatan 0,28%, Kota Manado 0,14% dan Kota Kotamobagu 0,04%.
Komoditas Kangkung menjadi pendorong inflasi terbesar di Minahasa Utara yakni 0,47%. Sedangkan di Manado dan Minahasa Selatan didorong oleh cabai rawit. Sementara di Kotamobagu komoditas Cakalang diawetkan.
Sebaliknya, komoditas penahan inflasi atau yang mengalami deflasi di empat daerah tersebut adalah Tomat.(jou)
