Barometer.co.id-Manado. Geliat ekonomi digital di Provinsi Sulawesi Utara terus menunjukkan perkembangan yang pesat dari tahun ke tahun. Hal ini setidaknya dapat dilihat dari dua indikator, yakni pembayaran secara digital menggunakan QRIS dan perdagangan melalui e-commerce.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara, Joko Supratikto mengatakan, untuk melihat perkembangan ekonomi digital maka dapat menggunakan indikator pembayaran digital, dalam hal ini QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard).
“Perkembangan ekonomi digital di Sulawesi Utara, secara umum dapat dilihat dari transaksi yang menggunakan pembayaran secara digital dengan QRIS. Dan sampai dengan bulan Juli 2026, jumlah transaksi QRIS di Sulawesi Utara mencapai 43,3 juta. Sedangkan nilai transakinya mencapai 45,57 triliun rupiah,” kata Joko saat diwawancara Barometer.co.id melalui telepon, Rabu (23/09/26).
Jika melihat data pengguna QRIS tahun 2021, maka akan terlihat perkembangan yang sangat pesat. Di mana berdasarkan data dari Bank Indonesia Sulut, pada tahun 2021 pengguna QRIS di Sulawesi Utara masih sangat sedikit, yakni baru 48.908. Sedangkan jumlah merchant yang telah menyediakan QRIS sebagai metode pembayaran baru 126.472.
Namun lima tahun kemudian, tepatnya pada triwulan II tahun 2026, jumlah pengguna QRIS di Sulawesi Utara telah mencapai 597.907 pengguna, atau lebih dari 10 kali lipat dibanding tahun 2021. Jumlah merchant pun meningkat signifikan, dan telah mencapai 387.182, lebih dari tiga kali lipat dibanding tahun 2021.
Volume transaksi pada triwulan II tahun 2026 juga sudah sangat tinggi, yakni sebanyak 20,38 juta, meningkat 10,61% (yoy). Sedangkan nilai transaksi mencapai Rp1,98 triliun tumbuh 4,78% (yoy).

Joko mengatakan, peningkatan volume dan nilai transaksi QRIS maupun e-commerce menunjukkan, ekonomi digital di Sulawesi Utara terus berkembang. “Sekitar lima tahun lalu, masih sangat sedikit orang yang melakukan pembayaran secara digital dengan QRIS. Namun saat ini, masyarakat yang menggunakan QRIS untuk pembayaran sudah sangat banyak. Apalagi di kalangan anak muda yang bahkan pembayaran dengan QRIS seperti telah menjadi tren,” katanya.
Tingginya nilai transaksi dan volume pembayaran menggunakan QRIS menurut Joko mengindikasikan mulai terjadinya pergeseran pola pembayaran masyarakat, dari tunai ke digital. Dan secara lebih luas hal ini menggambarkan pertumbuhan ekonomi digital di Sulawesi Utara yang semakin tinggi.
Joko mengatakan, Bank Indonesia memang terus menggalakkan pembayaran secara digital atau non tunai. Dan hal ini juga dilakukan di pemerintahan. Saat ini menurutnya, ada tim yang dibentuk Bank Indonesia dan pemerintah daerah untuk mendorong digitalisasi di pemerintahan, yakni Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah atau TP2DD. Melalui wadah ini, BI mendorong digitalisasi di pemerintahan, baik untuk penerimaan maupun pembayaran.
“Penerimana pembayaran, misalnya pajak atau retribusi dari masyarakat secara digital akan meningkatkan transparansi dan juga meningkatkan pelayanan serta mencegah kebocoran,” kata Joko.
Sementara pembayaran yang dilakukan oleh pemerintah, menurut Joko akan diarahkan untuk menggunakan Kartu Kredit Pemerintah. Sehingga nantinya baik penerimaan maupun pembayaran semuanya dilakukan secara digital.
“Harapannya, jika semua jenis penerimaan dan pembayaran pemerintah sudah dilakukan secara digital, maka hal ini meningkatkan Pendapatan Asli Daerah,” ujarnya.
e-commerce
Sementara itu, perkembangan e-commerce di Sulawesi Utara juga menunjukkan angka yang tinggi, baik secara nominal transaksi maupun volume transaksi. UMKM di Sulut yang telah memanfaatkan e-commerce saat ini pun semakin banyak. Khusus UMKM binaan Bank Indonesia Sulut saja, jumlahnya mencapai 150 yang telah memanfaatkan e-commerce.
Nominal transaksi e-commerce di Sulawesi Utara pada triwulan IV tahun 2025 berdasarkan data dari Bank Indonesia, telah mencapai Rp868,21 miliar, tumbuh 35,22% (yoy) dibanding triwulan IV tahun 2024 yang sebesar Rp642,09 miliar. Sedangkan volume transaksi mencapai 5,66 juta, tumbuh lebih tinggi lagi yakni 65,74% (yoy) dibanding tahun sebelumnya yang hanya 3,42 juta.
Angka tersebut telah mengalami peningkatan yang signifikan dibanding triwulan IV tahun 2022, di mana nominal transaksi baru Rp374 miliar dengan volume 1,2 juta.
Pertumbuhan e-commerce yang tinggi bukan hanya sekedar angka di atas kertas. Peningkatan penjualan melalui e-commerce dirasakan langsung oleh pengusaha, baik UMKM maupun jaringan F&B nasional di Manado. Salah satu pengusaha UMKM yang merasakan peningkatan penjualan melalui e-commerce adalah Rey Maya Veronika yang juga merupakan UMKM binaan Bank Indonesia Sulut. Dengan merek Mom Miyuki, Maya memasarkan beragam kuliner khas Manado berbahan ikan cakalang, ikan roa hingga olahan pisang.
“Saat pertama kali menjual secara online melalui e-commerce di tahun 2020, penjualannya baru sekitar lima persen dari total penjualan. Namun seiring waktu, dari tahun ke tahun penjualan melalui e-commerce semakin meningkat. Dan pada tahun 2026 ini, penjualan melalui e-commerce telah mencapai 25 persen dari total penjualan,” kata Maya kepada Barometer.co.id.
Mom Miyuki saat ini memiliki setidaknya 12 jenis produk kuliner yang dijual secara online maupun di toko-toko oleh-oleh di Manado.

Peningkatan penjualan yang tidak jauh berbeda juga dialami jaringan F&B nasional yang memiliki beberapa gerai di Manado. “Hingga tahun 2024, pesanan secara online masih sedikit. Namun sejak tahun 2025 hingga tahun 2026 ini, pesanan secara online meningkat pesat. Bahkan saat ini, rata-rata penjualannya telah mencapai sekitar 15 persen dari total penjualan. Bahkan pada akhir pekan, pesanan secara online bisa mencapai lebih dari 20 persen,” kata manager salah satu gerai F&B di Manado yang meminta nama gerai dan namanya tidak dipublikasikan dengan alasan angka yang disampaikan merupakan rahasia perusahaan.
Namun memang, di tengah peningkatan penjualan melalui e-commerce di Sulawesi Utara yang pesat, ada juga UMKM yang justru merasakan sebaliknya. Seperti yang dialami oleh Suriana melalui produk khas Manado dengan merek Lyvia. Ia mengaku, penjualan melalui e-commerce saat ini justru mengalami penurunan dibanding beberapa tahun lalu.
“Penjualan melalui e-commerce saat ini tinggal sekitar 10 persen, sementara penjualan melalui toko-toko mencapai 90 persen. Angka penjualan online ini menurun dibanding beberapa tahun lalu,” kata Suriana kepada Barometer.co.id.
Ia mengaku tidak mengetahui persis penyebab menurunnya penjualan. Tapi memang sejak produknya dikenakan potongan yang cukup besar oleh penyedia layanan e-commerce, penjualan pun mulai menurun.
“Saat ini potongan dari penyedia layanan e-commerce semakin besar. Dan hal ini membuat harga produk kami menjadi lebih mahal sekitar 20 persen dibanding dijual di toko. Mungkin ini salah satu penyebab penjualannya menurun,” kata Suriana.
Perkembangan ekonomi digital mungkin memang belum dirasakan oleh semua kalangan usaha. Namun dari angka dan juga pengakuan dari beberapa pelaku usaha, secara umum menunjukkan ekonomi digital di Sulawesi Utara terus mengalami peningkatan.
Ekonomi digital juga tidak akan mengganti seluruhnya sistem konvensional. Namun dua sistem tersebut akan saling melengkapi dalam meningkatkan perekonomian secara keseluruhan.(jou)
