Barometer.co.id – Amurang 
Bupati Minahasa Selatan Franky Donny Wongkar SH (FDW) didampingi Wabup Pdt .Petra Yani Rembang (PYR) melaksanakan Peletakan batu Pertama bagi pembangunan Hunian Tetap (Huntap). Jumat (03/02)

Pelaksanaan pembangunan Huntap ini bertempat di kawasan Huntap Desa Lopana, Kecamatan Amurang Barat, bagi Masyarakat yang terdampak Pasca bencana pantai Amurang yang terjadi dipertengahan bulan pada tahun 2022 lalu.

Pelaksanaan ini juga dihadiri oleh kepala Balai Penyedia Perumahan Sulawesi Utara. Ir. Recky W Lahope S.T, M.T

Dalam sambutannya, saat ini yang dilakukan adalah Ground breaking (Peletakan Batu Pertama).

“Groundbreaking sendiri bukan hanya sekadar menandai dimulainya pengerjaan pembangunan hunian tetap Dilokasi ini bagi korban pasca bencana ambrasi pantai Amurang, akan tetapi merupakan sebuah proses untuk membuktikan komitmen pemerintah Kabupaten Minsel dalam menyelesaikan pembangunan hunian tetap beserta infrastruktur didalamnya,” ujar Lahope.

Lebih jelas lagi Lahope menyebut Huntap yang akan di bangun Rencana Pelaksanaan dua tahap.

“Tahap awal ini berjumlah berjumlah 81 unit, seharusnya rencana berjumlah yang dipersiapkan 114 unit, dan sisanya 33 unitmasih dalam tahap direncanakan dalam tingkat pembicaraan atau pembahasan selanjutnya,” imbu nya.

Sementara itu Bupati Wongkar membenarkan bahwa sisa 33 dalam proses pembahasan dan bahannya sudah ada dan rencananya sisa yang 33 unit akan di usahakan tahun ini yang mana pada tahun 2024 huntap sudah harus dihuni dan serah terima aset ke Pemkab Minsel,” ujar Bupati FDW.

Menurut bupati dalam Penuntasan rehabilitasi bagi korban Pasca bencana pantai Amurang tahun lalu dibulan Juni 2022, merupakan sebuah kewajiban Pemerintah Daerah (Pemda).

“Rehabilitasi ini adalah kewajiban Pemda dan ini juga merupakan sinergitas kolaborasi Pemerintah daerah Provinsi Sulut dan Pemerintah Pusat dalam Hal ini Kementrian PUPR sehingga Pembagunan Huntap dapat dilaksanakan,” pungkasnya.

Bupati mengingatkan kepada seluruh jajaran bahwa pembangunan Huntap bukan hanya sekadar proyek, akan tetapi merupakan sebuah misi atau operasi kemanusiaan yang harus dilaksanakan sepenuh hati. 

“Saya berharap pembangunan ini selesai tepat waktu sebagaimana bentuk kepedulian dan empati bagi pengungsi, selain itu juga diharapkan dapat dilaksanakan dengan kwalitas yang tepat begitu juga tepat dalam pengunaan anggaran yang sudah diangharkan. Agar setiap anggaran dana yang digunakan dapat dipertanggung jawabkan.” harap Wongkar.(jim)