Barometer.co.id-Manado. Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sulawesi Utara terus melakukan berbagai upaya untuk menjaga agar harga komoditas utama stabil. Pada Senin (19/10/26), TPID Sulut melalui koordinasi Bank Indonesia Sulawesi Utara kembali melaksanakan Fasilitas Distribusi Pangan (FDP) dengan mendatangkan 2,07 ton cabai rawit dari Lombok, NTB.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara, Purwanto mengatakan, BI bersama TPID Sulut terus berusaha agar pasokan komoditas utama selalu tersedia. “Ketersediaan pasokan sangat penting, sehingga harga cabai rawit terkendali. Dengan demikian, masyarakat mampu menjangkau harga cabai yang lebih murah dibanding sebelumnya,” kata Purwanto saat acara Fasilitas Distribusi Pangan di Pasar Bersehati, Senin pagi.
Ia mengatakan, dengan adanya kegiatan ini, maka diharapkan inflasi di Sulut dapat dikendalikan dan bisa lebih rendah dibanding bulan lalu. “Dengan pasokan ini, harapannya harga semakin turun dan otomatis inflasi diharapkan bisa rendah,” katanya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sulawesi Utara, Rahel Rotinsulu mengatakan, kegiatan ini merupakan yang keempat kalinya, di mana tiga kali disuport oleh Bank Indonesia dan satu kali oleh Bapanas. “Cabai rawit ini didatangkan dari Kabupaten Lombok Barat, NTB sebanyak 2,07 ton atau 2.070 kg,” katanya.
Cabai rawit ini akan disalurkan di empat kota perhitungan IHK (Indeks Harga Konsumen) dan lima pasar, yaitu pasar Bersehati dan Pinasungkulan Manado, pasar Airmadidi Minahasa Utara, Pasar Amurang Minahasa Selatan dan Pasar 23 Maret Kotamobagu.
“Harga kali ini lebih murah dibanding dengan kegiatan sebelumnya. Kalau sebelumnya dijual dengan harga 57 ribu per kilogram, maka kali ini dijual dengan harga 50 ribu per kilogram,” kata Rahel.
Untuk menjaga agar harga jual Rp57 ribu/kg, maka dilakukan pengawasan oleh pihak Kepolisian, dalam hal ini Polresta Manado.
“Kami akan selalu berkolaborasi terkait pendistribusian cabai rawit ini. Dan jika ditemukan pelanggaran, maka Satgas akan melakukan penindakan,” katanya.
Asisten 2 Pemkot Manado, Atto Ratang Matandung Bulo, mengatakan dengan adanya intervensi dari pemerintah maka diharapkan kondisi akan semakin membaik.
“Dengan adanya intervensi pemerintah ini, diharapkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan cabai rawit. Untuk kebutuhan cabai rawit di Kota Manado sebesar 5 sampai 7 ton per hari,” katanya.
Pantauan media ini di Pasar Bersehati, cabai rawit yang dijual dengan harga Rp50 ribu/kg ini langsung diserbut pembeli.(jou)
