oleh

Memacu Produksi Pangan di Tengah Terpaan El Nino

Oleh Farhan Arda Nugraha

Barometer.co.id-Jakarta. Ketahanan pangan nasional sedang diterpa ujian. Kerawanan pangan berpotensi terjadi akibat perubahan musim di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk adanya fenomena El Nino yang berdampak terhadap kondisi kemarau ekstrem.

El Nino merupakan kondisi di mana suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pemanasan di atas kondisi normal. Tahun ini menjadi kali pertama Indonesia menghadapi fenomena El Nino sejak tiga tahun terakhir.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, fenomena El Nino tahun ini lebih ekstrem dibandingkan pada 2019. Wilayah yang terdampak mengalami kondisi lebih kering dibandingkan sebelumnya.

Akibatnya, sejumlah daerah dilanda kekeringan parah, terutama yang memiliki curah hujan relatif lebih rendah dibandingkan daerah lain. Karena sangat bergantung dengan pasokan air, maka kekeringan tersebut berdampak terhadap sektor pertanian.

Menurut data Kementerian Pertanian, El Nino pada tahun ini bisa menurunkan produksi beras hingga 1,2 juta ton. Padahal, pemerintah menargetkan produksi beras pada tahun ini mencapai 30 juta ton.

Sebagai ujung tombak pemerintah dalam memastikan ketersediaan pangan untuk masyarakat, Kementerian Pertanian telah menyiapkan sejumlah strategi untuk menghadapi fenomena El Nino.

Gernas Tanam Padi

Gerakan Nasional (Gernas) Tanam Padi menjadi salah satu langkah yang digalakkan Kementerian Pertanian dalam rangka menggenjot produksi beras guna mengamankan ketersediaannya di tengah fenomena El Nino.

Gernas Tanam Padi menargetkan penanaman di 569.374 hektare lahan persawahan yang tersebar di 10 provinsi. Sebanyak 10 provinsi itu terbagi menjadi 6 provinsi utama dan 4 provinsi pendukung.

Periode penanaman dimulai pada Agustus yang dipanen pada November, kemudian penanaman pada September akan dipanen pada bulan Desember, dan penanaman Oktober untuk Januari 2024.

Adapun yang menjadi provinsi utama adalah Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Sedangkan provinsi pendukung yaitu Lampung, Banten, Kalimantan Selatan, dan Nusa Tenggara Barat.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan bahwa gerakan nasional tersebut bertujuan untuk mengompensasi penurunan produksi padi imbas fenomena El Nino berupa penambahan area tanam mencapai 569.374 hektare.

Pemerintah menyiapkan sejumlah upaya dalam mendukung gerakan tersebut di antaranya menyediakan benih padi, menyediakan sumber air dengan pompa maupun sumur resapan, membantu pengendalian organisme pengganggu, memastikan kelancaran distribusi pupuk, dan mendata calon petani serta lokasi penanaman padi.

Hingga awal November 2023, realisasi luas tanam Gernas Tanam Padi telah mencapai 430.235 hektare dengan rincian di Sumatera Utara seluas 27.272 hektare, Sumatera Selatan seluas 81.446 hektare, Lampung seluas 22.081 hektare, Banten seluas 36.435 hektare, Jawa Barat seluas 41.041 hektare.

Kemudian di Jawa Tengah seluas 50.017 hektare, Jawa Timur seluas 53.060 hektare, Kalimantan Selatan seluas 42.193 hektare, Sulawesi Selatan seluas 65.396 hektare, dan Nusa Tenggara Barat seluas 11.294 hektare.

Optimalisasi lahan rawa

Untuk memaksimalkan produksi komoditas pangan strategis, pemerintah tengah berupaya “menyulap” 400 ribu hektare lahan rawa agar dapat ditanami. Menteri Pertanian optimistis pemanfaatan lahan rawa untuk produksi dapat menambah produksi pangan nasional.

Berdasarkan data Ditjen PSP, di Indonesia terdapat lahan rawa tadah hujan sekitar 1,068 juta hektare dari 1,5 juta hektare potensinya yang dapat ditingkatkan Indeks Pertanaman dan produktivitasnya.

Selain itu, terdapat lahan rawa lainnya yang potensial seluas 10 juta hektare yang belum dimanfaatkan sebagai lahan pertanian untuk produksi pangan terutama padi dan jagung.

Kegiatan yang dapat dilakukan di lahan rawa dan lahan tadah hujan adalah pengembangan infrastruktur air dan lahan, mekanisasi pertanian pratanam dan pascapanen, penyediaan sarana produksi (benih, amelioran, pupuk, dan pestisida) introduksi teknologi adaptif, serta peningkatan kemampuan petani dan kelembagaan petani.

Pertemuan Menteri Pertanian dengan Duta Besar Thailand untuk Indonesia pada akhir November lalu untuk berbagi ilmu pengetahuan dan teknologi terkait optimalisasi lahan rawa menjadi salah satu bukti keseriusan pemerintah dalam menjalankan upaya tersebut.

Penyaluran pupuk subsidi

Hingga 30 November 2023, PT Pupuk Indonesia telah menyalurkan sebesar 5,71 juta ton pupuk subsidi atau sekitar 94 persen dari total alokasi sesuai anggaran Pemerintah, yaitu 6,05 juta ton.

Kendati demikian, proses distribusi pupuk bersubsidi masih belum dapat menjangkau semua petani. Menurut Menteri Pertanian Amran Sulaiman, sebagian petani yang belum memiliki Kartu Tani sebagai akses untuk mendapatkan pupuk bersubsidi, menjadi salah satu permasalahannya.

Isu distribusi pupuk bersubsidi dianggap penting oleh pemerintah karena menjadi salah satu pendorong peningkatan produksi pangan di Indonesia.

Amran menyebutkan, sebanyak 16 persen petani di Indonesia belum memiliki Kartu Tani karena keterbatasan akses dari tempat tinggal hingga kendala tingkat pendidikan.

Untuk itu, Amran melakukan penyederhanaan prosedur bagi petani yang hendak menebus pupuk subsidi cukup dengan menunjukkan Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Sementara Presiden Joko Widodo menyatakan pengawasan secara berkala akan terus dilakukan untuk mencegah terjadinya permasalahan subsidi pupuk yang saat ini dikeluhkan oleh para petani.

Pengembangan alsintan modern

Di samping penyediaan pupuk, modernisasi alat dan mesin pertanian (alsintan) juga penting untuk meningkatkan kesejahteraan petani karena akan meningkatkan efisiensi, intensitas penanaman dan menekan biaya produksi.

Distribusi dan pengembangan alsintan modern terus diupayakan pemerintah salah satunya melalui Proyek Pengembangan Sistem Pertanian terpadu di Daerah Dataran Tinggi atau Development of Integrated Farming System at Upland Area (Upland Project) dari Direktorat Jendral Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian.

Program tersebut memberikan pendampingan kepada petani mulai dari proses pra-panen (on farm) hingga pasca panen (off farm) seperti pengolahan dan pemasaran produk tani.

Di samping itu, sebanyak 3.989 unit alsintan pra panen, 207 unit alsintan pasca panen, 113 unit transportasi pertanian, dan 116 unit gudang penampung hasil pertanian juga telah disalurkan ke kelompok petani binaan program tersebut.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada 2023 sebanyak 13,12 juta petani atau 46,84 persen dari total 28,19 juta petani telah menggunakan teknologi alat dan mesin pertanian (alsintan) modern dan teknologi digital.

Penggunaan alsintan dan teknologi modern tersebut mencakup penggunaan internet/telepon pintar/teknologi informasi, penggunaan drone dan atau penggunaan kecerdasan buatan untuk budidaya pertanian.

Mengamankan pasokan air

Kementerian Pertanian mewaspadai dampak kekeringan yang ditimbulkan oleh El Nino terhadap ketahanan pangan. Setelah mendapatkan prakiraan potensi kemarau ekstrem dari BMKG, Kementerian Pertanian telah menyiapkan sejumlah siasat untuk mengamankan pasokan air.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Kementan, Ali Jamil pada April menyebutkan tindakan antisipasi yang dilakukan di antaranya mendorong petani untuk ikut program asuransi usaha tani padi (AUTP), mengerahkan gerakan serbu El Nino melalui penggunaan pompa air di wilayah-wilayah rentan kekeringan dengan memanfaatkan sumber-sumber air yang ada.

Selain itu, Kementan juga akan memaksimalkan kegiatan rehabilitasi jaringan Irigasi tersier (RJIT) yang dapat meningkatkan efisiensi aliran irigasi hingga ke lahan sawah. Juga ada kegiatan irigasi perpipaan, irigasi perpompaan, pembangunan embung, dam parit yang bertujuan sebagai suplesi air hingga lahan.

Untuk memastikan infrastruktur irigasi pertanian dalam kondisi baik, Kementan menggaet Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Kerja sama dengan Kementerian PUPR untuk memastikan ketersediaan air di tingkat usaha tani, dengan pengembangan sumber air alternatif atau merehabilitasi jaringan irigasi. Pada awal Oktober, Menteri PUPR Basuki Hadimoeljono mengatakan Indonesia masih menyimpan persediaan air sekitar 2,9 miliar meter kubik untuk kebutuhan irigasi pertanian di tengah fenomena El Nino.

Sumber persediaan air tersebut disuplai dari 3.464 embung di sekitar daerah yang memiliki irigasi. Sumber lainnya dipasok dari 332 setu, 8.213 sumur untuk kebutuhan irigasi pertanian.

Di penghujung 2023, hujan mulai mengguyur beberapa wilayah di Indonesia dengan intensitas kecil, sedang, maupun tinggi. Permukaan tanah yang kering dan keras kembali dapat memberikan kehidupan bagi tanaman. Hal tersebut menjadi sinyal kondisi pertanian di Indonesia segera pulih.

Kendati demikian, pemerintah perlu tetap waspada dan sigap dalam menghadapi ancaman kekeringan ekstrem yang bisa menampakkan diri di masa depan. Siasat dan upaya dalam menggenjot produksi pangan tidak hanya untuk menjaga ketersediaan pangan di kala masa sulit, tetapi juga mewujudkan cita-cita Indonesia untuk kembali mencapai swasembada pangan.(ant)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *