Barometer.co.id-Manado. Sebagai upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang berintegritas dan bebas dari gratifikasi, Inspektorat Daerah Kota Manado melakukan pemantauan pembagian raport di SMP Negeri 1 Manado, Jumat (13/03/26). Tim Inspektorat melakukan pengawasan ketat terhadap berbagai potensi praktik gratifikasi.
Dari hasil pantauan secara kasat mata tidak ditemukan pelanggaran. Namun tim Inspektorat juga menggunakan kuesioner kepada orang tua siswa untuk mendapatkan data yang akurat. Langkah ini merupakan bagian dari upaya menciptakan ekosistem sekolah yang bebas dari pungutan liar maupun pemberian hadiah yang melanggar aturan.
Victor Sampouw, salah satu anggota tim Inspektorat Daerah Kota Manado mengatakan dari pantauan langsung di lokasi, tim monitoring mendapati bahwa kegiatan pembagian raport berlangsung normal dan tertib. Tidak terlihat adanya penyerahan bingkisan, amplop, atau barang berharga lainnya dari orang tua kepada tenaga pendidik secara terbuka.
Namun menurut Victor, Tim Inspektorat tidak ingin hanya terpaku pada apa yang tampak di permukaan. Ia menjelaskan bahwa timnya menggunakan metode kuesioner dengan sampling acak kepada orang tua siswa sebagai instrumen utama pengawasan.
“Secara kasat mata memang tidak ada yang terlihat. Namun, hasil sementara ini belum bisa dijadikan rujukan atau kesimpulan final bahwa sekolah ini bersih 100 persen dari gratifikasi. Kami masih harus mengumpulkan dan menganalisa seluruh kuesioner yang telah diisi oleh para orang tua,” tegas Victor.
Cakupan Pengawasan yang dilakukan mulai dari PPDB hingga penyerahan Raport. Victor mengatakan, kuesioner yang dibagikan memiliki cakupan pertanyaan yang cukup mendalam. Pihak Inspektorat tidak hanya menelisik kejadian pada hari pembagian raport saja, melainkan merunut kembali rekam jejak integritas sekolah sejak proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) hingga proses penerimaan raport tengah semester yang berlangsung saat ini.
Hal ini dilakukan untuk mendeteksi apakah terdapat praktik gratifikasi terselubung yang mungkin terjadi di masa lampau namun baru terungkap melalui pengakuan anonim orang tua.
Respon Masyarakat
Di lapangan, tim menemukan dinamika sosial yang beragam. Ada orang tua atau wali murid yang enggan mengisi kuesioner. Alasannya mereka takut salah menjawab sehingga bisa berdampak buruk pada anak mereka di sekolah.
Namun sebaliknya, banyak orang tua yang mengpresiasi pengawasan yang dilakukan Inspektorat Daerah Kota Manado ini. Banyak orang tua yang menanyakan kenapa pengawasan seperti ini baru dilakukan sekarang, dan belum menjangkau sekolah lainnya. Hal ini disampaikan orang tua karena anak mereka yang bersekolah di tempat lain belum pernah mendapat pengawasan seperti ini.
Menanggapi aspirasi tersebut, Victor menjelaskan bahwa keterbatasan personel menjadi tantangan utama bagi Inspektorat. “Kami akan melakukan monitoring secara berkala dan bergiliran, mengingat jumlah tim yang terbatas. Kami berharap masyarakat bersabar dan tetap kooperatif dalam memberikan informasi yang akurat,” tambahnya.
Tunggu Analisa Tim
Saat berita ini diturunkan, hasil pengawasan yang akurat belum dipublikasikan. Seluruh data dari kuesioner masih dikumpulkan dari setiap anggota tim untuk kemudian dilakukan tahap verifikasi dan analisa mendalam.
Hasil analisa tersebut nantinya akan menjadi dasar bagi Inspektorat Daerah Kota Manado untuk memberikan rekomendasi atau tindakan lebih lanjut jika ditemukan adanya indikasi kuat praktik gratifikasi, baik di masa sekarang maupun pada proses administrasi sekolah sebelumnya.
Penambahan poin mengenai PPDB dan analisa kuesioner menunjukkan Inspektorat bekerja secara sistematis dan tidak terburu-buru dalam mengambil kesimpulan atau tidak sekadar formalitas.(jou)
