Barometer.co.id-Manado. Subsektor Hortikultra kembali menjadi penopang meningkatnya Nilai Tukar Petani (NTP) Sulawesi Utara di bulan Oktober 2026 menjadi 136,13, atau naik 6,09% dibanding September. Pada bulan Oktober 2026, NTP Hortikultura berhasil meningkat 28,83%, yakni dari 253,67 di bulan September menjadi 326,81.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara, Watekhi mengatakan, dari lima subsektor yang dipantau, dua mengalami kenaikan, sedangkan tiga lainnya menurun. Subsektor yang juga mengalami kenaikan selain Hortikultura adalah Peternakan sebesar 0,74%.

Tiga subsektor yang mengalami penurunan yaitu Tanaman Pangan -0,21%, Tanaman Perkebunan Rakyat -0,05% dan Perikanan -1,89%. NTP Perikanan terbagi dua, yakni nelayan tangkap (-1,97%) dan pembudidaya ikan (-0,92%).

“Secara umum, naiknya NTP menunjukkan daya beli petani Sulut meningkat. Sebab NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat daya beli petani, dengan mengukur kemampuan tukar produk yang dihasilkan atau dijual petani dibandingkan dengan produk yang dibutuhkan petani. Semakin tinggi NTP dapat diartikan kemampuan daya beli petani menjadi lebih baik,” jelas Watekhi, Senin (02/11/26).

Ia mengatakan, kenaikan NTP Sulut pada bulan Oktober 2026 disebabkan karena Indeks yang diterima petani naik 7%, sementara Indeks yang dibayar petani hanya naik 0,86%.

“Komoditas utama yang memiliki andil terbesar terhadap kenaikan Indeks yang diterima petani adalah tomat, kelapa, kentang, babi dan jagung,” ujar Watekhi.

Pada bulan Oktober 2026, empat provinsi di Pulau Sulawesi mengalami kenaikan NTP, sedangkan dua lainnya turun. Provinsi Sulawesi Utara mengalami kenaikan NTP tertinggi di Pulau Sulawesi, kemudian Gorontalo 2,79%, Sulawesi Tengah 0,71% dan Sulawesi Selatan 0,57%. Sedangkan Sulawesi Tenggara mengalami penurunan NTP -0,38% dan Sulawesi Barat -2,25%.(jou)