Barometer.co.id-Manado. Booster Katrili merupakan penyubur tanaman yang bahan baku utamanya dari endapan silika di Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lahendong, Sulawesi Utara. Booster Katrili ini telah diujicoba pada berbagai jenis tanaman dengan hasil, produksi meningkat dan biaya pengadaan pupuk berkurang.

Booster Katrili merupakan hasil inovasi Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Lahendong dan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta sejak beberapa tahun terkahir. Endapan silika di PLTP Lahendong yang tadinya hanya merupakan sisa produksi dalam menghasilkan energi listrik, kini telah dimanfaatkan sebagai bahan baku utama dalam membuat booster untuk berbagai jenis tanaman.

Endapan silika dari hasil penelitian UGM ternyata memiliki 60 unsur hara, sama seperti pada abu vulkanik gunung berapi yang sangat baik untuk menyuburkan tanaman. Proses penelitian hingga produksi Booster Katrili sudah diulas dalam berita yang diterbitkan media ini pada 31 Oktober 2024 dengan judul “Inovasi PGE Lahendong dan UGM, Endapan Silika di PLTP Diolah Jadi Pupuk”.

Selain digunakan bersamaan dengan pupuk, Booster Katrili pada beberapa ujicoba yang dilakukan oleh petani, dapat digunakan sebagai pengganti pupuk. Artinya, tanaman cukup menggunakan Booster Katrili untuk menjaga kesuburan.

General Manager PT PGE Area Lahendong, Albertus Novi Purwono mengatakan, Booster Katrili ini pertama kali diujicoba pada tanaman tomat di Desa Tonsewer Selatan, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara tahun 2024 lalu. Panen perdana dilakukan pada 31 Oktober 2024 dengan hasil produksi meningkat dan daya tahan tomat lebih lama.

“Sejak akhir tahun 2024 sampai saat ini, Booster Katrili sudah digunakan pada berbagai jenis tanaman seperti tomat, kacang, padi, jagung dan bawang merah. Hasilnya produksi lebih banyak dibanding tidak menggunakan Booster Katrili,” kata Novi kepada Barometer.co.id.

Terakhir, PGE Lahendong memberikan Booster Katrili untuk petani kacang batik di Desa Kanonang Satu, Kecamatan Kawangkoan, Kabupaten Minahasa dan petani padi di Kelurahan Tondangow, Kecamatan Tomohon Selatan, Kota Tomohon.

Novi mengatakan, Desa Kanonang Satu dan Keluruhan Tondangow dipilih untuk mendapatkan bantuan Booster Katrili karena berada di area pengembangan masyarakat, atau ring satu PGE Area Lahendong. Di Desa Kanonang yang berjarak kurang lebih 45 Km sebelah selatan ibukota Provinsi Sulawesi Utara, Manado, terdapat aset PGE Lahendong, yakni Cluster 26.

Di situ terdapat sumur PGE Lahendong untuk menyuplai panas bumi ke PLTP Lahendong Unit 5 & 6 yang berada di Desa Talikuran, Kecamatan Tompaso, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara. Jarak dari Desa Kanonang ke PLTP Lahendong Unit 5 & 6 jika ditarik garis lurus, kurang lebih 1,7 km.

Steven Meruntu secara rutin menyemprot Booster Katrili dan membersihkan kebun kacang batik. (foto: barometer.co.id)

Sementara di Kelurahan Tondangow yang juga berada di sebelah selatan Kota Manado dan berjarak kurang lebih 34 Km, terdapat cluster 13 dan juga sumur PGE Lahendong. Di Kelurahan Tondangow juga terdapat Central Control Room 14 PGE Lahendong.

Petani Kacang Batik di Desa Kanonang Satu, Steven Meruntu mengatakan, mereka sangat terbantu dengan adanya Booster Katrili karena bisa meningkatkan produksi dan mengurangi biaya pupuk.

“Dengan menggunakan Booster Katrili, penggunaan pupuk berkurang 50 persen, sementara hasil panen bisa meningkat sekitar 50 persen. Sehingga secara keseluruhan penghasilan dari hasil panen kacang batik meningkat,” kata Steven yang ditemui di kebunnya.

Ia mengatakan, luas lahan yang dipakai untuk menanam kacang batik sekitar 3.000 meter persegi. “Sebelum menggunakan Booster Katrili, hasil panen berkisar antara 12-15 karung. Dan setelah menggunakan Booster Katrili, hasil panen mencapai 15-20 karung. Jadi memang peningkatannya sangat terasa,” katanya.

Dengan harga kacang batik yang sedang tinggi, penghasilan pun meningkat. Steven mengatakan, harga kacang batik saat ini Rp1,2 juta per karung. Jadi dengan produksi maksimal 20 karung, penghasilan dari penjualan mencapai Rp24 juta.

Sedangkan sebelum menggunakan Booster Katrili dengan hasil maksimal 15 karung, pendapatan mereka hanya Rp18 juta. Di samping itu, pengeluaran untuk pupuk juga berkurang 50%, sehingga secara total penghasilan meningkat.

Pemerintah setempat menyambut baik penggunaan Booster Katrili oleh petani. Kepala Desa (Kades) Kanonang Satu, Lucky Kasenda mengatakan, pihaknya sangat mendukung penggunaan Booster Katrili oleh petani setempat. “Karena sudah terbukti, petani yang memanfaatkan Booster Katrili mendapat tambahan penghasilan karena hasil panen meningkat. Dengan meningkatnya penghasilan, maka perekonomian petani pasti ikut meningkat. Untuk itu, selaku pemerintah kami berharap Booster Katrili ini dapat dimanfaatkan secara luas oleh para petani,” katanya kepada Barometer.co.id.

Lucky Kasenda

Apalagi menurutnya, hampir semua warga Desa Kanonang Satu menanam kacang batik. Sehingga jika semua petani dapat menggunakan Booster Katrili, maka hasil produksi secara keseluruhan akan meningkat, dan pastinya akan berimbas pada meningkatnya perekonomian desa.

Tanaman kacang batik menurut Kades Lucky, merupakan produk unggulan di Desa Kanonang secara keseluruhan. Dinamakan kacang batik, karena motif kacang memang seperti batik. Kacang batik ini biasanya diolah menjadi kacang sangrai oleh masyarakat setempat kemudian dijual. Desa Kanonang pun saat ini sudah dikenal sebagai sentra penghasil kacang batik dan produksi kacang sangrai.

Kades Lucky mengatakan, Booster Katrili ini juga dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk dan pestisida. Karena ia sendiri telah melakukan ujicoba pada tanaman padinya dengan hanya menggunakan Booster Katrili. Hasilnya panen ternyata sama dengan menggunakan pupuk dan pestisida.

“Dengan hanya menggunakan Booster Katrili, hasil panen memang tidak meningkat. Namun kami bisa menghemat biaya pengadaan pupuk. Selain itu, kami juga bisa langsung menanam padi, tanpa perlu menyediakan pupuk Urea dan Ponska terlebih dahulu, seperti yang biasa kami dan petani lainnya lakukan selama ini,” kata Kepala Desa Lucky.

Peningkatan penghasilan setelah menggunakan Booster Katrili juga dirasakan oleh Sisca Langkun, 51 tahun, petani padi di Kelurahan Tondangow, Kecamatan Tomohon Selatan, Kota Tomohon. Ia mengatakan, dengan menggunakan Booster Katrili, hasil panen mengalami peningkatan.

“Saya sudah dua kali masa tanam menggunakan Booster Katrili. Pertama sempat gagal karena diserang hama tikus. Tetapi yang kedua berhasil. Hasil panen setelah menggunakan Booster Katrili meningkat, dari biasanya 18 karung menjadi 22 karung beras,” kata Sisca kepada Barometer.co.id.

Panen perdana tanaman padi menggunakan Booster Katrili sudah dilakukan pada 18 September 2025. Panen perdana dihadiri oleh manajemen PGE Area Lahendong serta pejabat Pemerintah Kota Tomohon dan pihak kepolisian.

Sisca mengatakan, dengan menggunakan Booster Katrili, penghasilan dari hasil panen padi meningkat. Saat ini menurutnya, harga satu karung beras ukuran 50kg sebesar Rp800 ribu. Dengan hasil panen yang mencapai 22 karung beras, maka penghasilannya sebanyak Rp17.600.000. Sementara sebelum menggunakan Booster Katrili, dengan hasil panen hanya 18 karung beras, maka penghasilannya Rp14.400.000. Berarti dalam sekali panen ia mendapat tambahan penghasilan Rp3.200.000 dan untuk dua kali panen mendapat tambahan penghasilan Rp6.400.000.

“Tambahan penghasilan ini sangat berarti bagi saya. Selain untuk biaya hidup, tambahan penghasilan ini juga untuk membiayai anak kedua saya yang sedang kuliah di Universitas Sam Ratulangi Manado,” kata Sisca yang suaminya meninggal tahun 2024 lalu.

Saat ini, Sisca yang telah menjadi penggarap sawah sejak berusia 19 tahun, tengah melakukan pembibitan baru untuk masa tanam berikutnya. Saat ditemui pada Rabu (28/10/25), bibit padi yang baru berumur satu minggu sudah dilakukan penyemprotan dengan Booster Katrili untuk pertama kalinya.

“Penyemprotan Booster Katrili akan dilakukan setiap dua minggu sekali sampai terakhir saat mulai keluar buah padi,” kata Sisca.

Albertus Novi Purwono.

Steven dan Sisca merupakan contoh dua petani yang telah merasakan manfaat dari Booster Katrili. Mereka beruntung karena bisa merasakan manfaat dari Booster Katrili yang diberikan oleh PGE Area Lahendong melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).

Petani lainnya yang telah mengetahui manfaat dari Booster Katrili ini pun ingin mendapatkannya. Namun karena keterbatasan produksi, PGE Lahendong belum bisa memenuhi permintaan tersebut.

Terkait hal ini, Novi mengatakan bahwa Booster Katrili yang dihasilkan sekarang masih merupakan bagian dari program CSR dan belum diproduksi secara masal ataupun komersil. Hal ini membuat pihaknya belum bisa memenuhi permintaan petani terhadap Booster Katrili. Namun ia mengatakan, PGE Lahendong bersama UGM Yogyakarta sedang dalam proses untuk melakukan produksi masal dan secara komersil.

“PGE Lahendong bersama dengan UGM Yogyakarta memang mempunyai rencana untuk memproduksi masal dan secara komersil Booster Katrili ini. Dan saat ini kami masih dalam proses kajian secara komprehensif agar Booster Katrili ini dapat diproduksi secara komersil,” katanya.

Ia mengatakan, PGE Lahendong bersama UGM Yogyakarta juga tengah mengurus semua perizinan untuk memproduksi Booster Katrili, termasuk mekanisme peredarannya. Hak paten Booster Katrili juga menurutnya tengah diurus.

Jika nantinya sudah diproduksi secara komersil, Novi mengatakan pihaknya akan tetap memberikan Booster Katrili secara gratis kepada petani di sekitar proyek mereka. “Petani yang berada di area pengembangan masyarakat atau di ring satu PGE Lahendong tetap bisa mendapatkan Booster Katrili secara gratis melalui program CSR kami,” ujarnya.

Booster katrili sudah terbukti dapat meningkatkan produksi pertanian. Bahkan pada beberapa ujicoba, Booster Katrili dapat menjadi pengganti pupuk untuk tanaman dengan hasil yang sama. Petani yang telah menggunakan Booster Katrili pun sudah merasakan manfaatnya. Hasil panen meningkat, penghasilan mereka pun bertambah.

Jika sudah diproduksi masal, maka Booster Katrili akan dapat meningkatkan produksi pertanian petani, yang akhirnya akan meningkatkan perekonomian daerah.(jou)